AQIDAH AKHLAK
MADRASAH ALIYAH
KLAS X
BERDASARKAN KURIKULUM KTSP
Oleh :
Hibana Yusuf, S.Ag., M.Pd.
AQIDAH AKHLAK
Madrasah ‘Aliyah Klas X
Hibana Yusuf, S.Ag., M.Pd.
@ Hibana Yusuf, S.Ag., M.Pd.
Editor : Susilo Surahman, S.Ag., M.Pd.
Desain Cover : Abdul Haris Nufika
Setting : Sulastri
Hak cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak buku ini sebagian atau seluruhnya dalam bentuk dan dengan cara apapun, baik secara mekanis maupun elektronis,
termasuk Foto copy, rekaman dan lain-lain
tanpa ijin tertulis dari penulis
Penerbit : Mutiara Press Yogyakarta
Manggisan Baturetno Banguntapan Bantul Tlp. (0274) 741 8840
Cetakan : Pertama Agustus 2009
ISBN : 979-97008-5-X
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, dengan ijin Allah SWT. penulis dapat menyelesaikan buku AQIDAH AKHLAK klas X Madrasah Aliyah ini. Semoga membawa manfaat. Buku ini disusun karena ada desakan sedemikian rupa dari para guru yang tergabung dalam MGMP Aqidah Akhlak Propinsi DIY. Mengingat belum adanya buku panduan atau bahan ajar yang dapat memudahkan para guru untuk mengajar Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah.
Buku Aqidah Akhlak ini disusun berdasarkan Kurikulum Departemen Agama Tahun 2008. khusus untuk bab V tentang Asmaul Husna, mengacu pada kurikulum yang ada, yakni Asmaul husna dibahas 20 nama secara acak. Namun berdasar pada kesepakatan MGMP Aqidah Akhlak bahwa untuk memudahkan pengajaran, Asmaul Husna diambil 20 nama yang pertama secara berurutan. Untuk mengakomodir dua hal tersebut maka jadilah 35 asmaul husna yang dibahas dalam buku ini.
Karena keterbatasan waktu buku ini segera dipakai maka dengan segala daya upaya bagaimana buku Aqidah Akhlak ini bisa segera terwujud. Kekurangan di sana sini tentu masih terasa. “Yang penting ada dulu”, itulah semangat kami. Melalui saran dan masukan dari ‘alim ‘ulama para pembaca semua, semoga penerbitan berikutnya akan lebih baik lagi.
Dengan segala kekurangan yang ada, buku ini telah didiskusikan di forum MGMP Aqidah Akhlak. Terimakasih kepada teman-teman guru MGMP yang telah memberikan saran dan masukan. Semoga buku yang sederhana ini dapat memberi manfaat. Terimakasih.
Yogyakarta, 2009
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PRINSIP-PRINSIP AQIDAH
A. Prinsip-prinsip Aqidah ...........................
B. Metode Peningkatan Kualitas Aqidah......
C. Menerapkan Prinsip Aqidah dalam kehidupan ...........................................
D. Menerapkan Metode Peningkatan
Kualitas Aqidah dalam kehidupan.......
BAB II TAUHID
A. Pengertian Tauhid ......................
B. Macam-macam Tauhid ................
C. Perilaku orang yang bertauhid ........
D. Menerapkan perilaku Tauhid
dalam keseharian .................
BAB III SYIRIK
A. Pengertian syirik ............
B. Macam-macam syirik..............
C. Perilaku syirik...................
D. Akibat Perbuatan Syirik..........
E. Menghindari syirik..................
BAB IV AKHLAK
A. Pengertian akhlak..........
B. Induk akhlak terpuji dan
akhlak tercela ..................
C. Metode peningkatan kualitas
Akhlak................
D. Peningkatan Kualitas Akhlak dalam keseharian........................
BAB V ASMAUL HUSNA
A. Menguraikan 30 Asmaul Husna......
B. Menunjukkan kebesaran Allah
melalui Asmaul husna................
C. Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna.....................
D. Meneladani Sifat-sifat Allah dalam
Asmaul Husna...........
BAB VI AKHLAK TERPUJI
A. Husnuzhan..................
B. Taubat..................
BAB VII AKHLAK TERCELA
A. Riya’......................
B. Aniaya......................
C. Diskriminasi..................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PRINSIP- PRINSIP AQIDAH
A. Pengertian
Secara bahasa (etimologis) Aqidah jamaknya adalah berarti kepercayaan, keyakinan yang tersimpul dengan kokoh di dalam hati dan bersifat mengikat. Secara istilah Aqidah berarti sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh hati dan mendatangkan ketenteraman jiwa. Kepercayaan dan keyakinan (aqidah) merupakan pangkal dan landasan dari segala perbuatan.
Sebagai sebuah landasan maka aqidah harus lurus, tidak berbelok, tidak tercampur dengan keraguan. Aqidah yang lurus bersumber dan berpedoman pada Alquran dan assunnah (hadits) karena Alquran dan assunnah mengandung nilai-nilai yang murni dan kebenaran yang mutlak. Setiap manusia memiliki fitrah ketuhanan yakni keyakinan dasar bahwa di balik alam semesta ini ada sesuatu dzat yang maha kuasa, maha perkasa, maha segala maha. Hal itu dapat dibuktikan apabila seseorang berada pada situasi yang sangat kritis dan tidak ada satupun orang yang bisa menolongnya. Maka niscaya dia akan memanggil Tuhan, Allah dzat yang memiliki kekuasaan di luar dirinya.
Melalui akal dan indera setiap manusia sesungguhnya bisa membuktikan adanya Tuhan. Tapi siapa Tuhan yang sesungguhnya hanya wahyu yang bisa menunjukkan. Yakni wahyu Allah yang tertuang dalam Alquran dan Al-Hadits. Aqidah yang benar akan mendatangkan ketenteraman jiwa, karena mendapatkan sandaran fertikal yang kokoh. Seberat apapun cobaan hidup bila memiliki sandaran yang kuat akan mampu menghadapinya. Sebaliknya aqidah yang lemah tidak akan mendatangkan ketenangan jiwa. Kalaupun mendapatkan hanyalah ketenangan yang semu, karena tidak sesuai dengan fitrah.
B. Ruang Lingkup Aqidah.
Ruang lingkup pembahasan Aqidah mengikuti sistematika rukun iman, yaitu :
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada malaikat Allah
3. Iman kepada kitab kitab Allah
4. Iman kepada Nabi dan Rasul-rasul Allah
5. Iman kepada hari akhir
6. Iman kepada takdir Allah
Sedangkan ruang lingkup pembahasan Aqidah menurut Hasan Albana adalah :
1. Illahiyat, yakni pembahasan tentang segala sesuatu yang berkait dengan Illah (Allah) seperti nama nama Allah, sifat-sifat Allah (sifat wajib, sifat jaiz dan sifat mustahil), dan lain sebagainya.
2. Nubuwat yakni pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk pembahasan tentang kitab kitab Allah, mukjizat, karomah, dan lain sebagainya
3. Ruhaniyat, yakni pembahasan tentang segala sesuatu yang bersifat ruhani dan berhubungan dengan alam metafisik seperti malaikat, syaitan, jin, ruh, dan lain sebagainya.
4. Sam’iyyat, yakni pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya dapat diketahui melalui sam’i (pendengaran) berupa dalil naqli dari Alqur’an dan assunnah, seperti alam barzah, alam akhirat, surga, neraka, shirothol mustaqim, dan lain sebagainya
C. Prinsip-prinsip Aqidah
Aqidah adalah landasan hidup. Aqidah yang benar akan menjamin keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Beberapa hal yang menjadi prinsip dalam aqidah secara umum antara lain :
1. Syahadat Tauhid
Bukti keimanan seseorang adalah dengan berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat, berupa :
a. Syahadat Tauhid, yaitu kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah.
b. Syahadat Rasul, yaitu kesaksian bahwa Nabi Muhammad SAW. Adalah utusan Allah.
Dua kalimat syahadat itulah yang menjadi syarat bagi seseorang untuk dapat dikatakan sebagai orang yang beriman, sekaligus sebagai kunci untuk dapat masuk surga. Rasulullah mengatakan bahwa barang siapa yang di akhir hayatnya dapat mengucapkan “Laailaaha illallah” niscaya masuk surga.
Aqidah adalah keyakinan dasar dalam beragama. Aqidah dalam Islam mencakup tiga hal, yaitu :
a. Meyakini dalam hati, yakni mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan di alam raya ini keculi hanya Allah.
b. Mengucapkan secara lisan, yakni mewujutkan keyakinan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, berupa syahadat tauhid dan syahadat Rasul.
c. Melaksanakan dalam bentuk perbuatan, yakni membuktikan keyakinan yang telah diucapkan tersebut dalam bentuk perbuatan sehari-hari, baik dalam hal ibadah maupun muamalah.
Tiga hal tersebut tidak dapat dipilih atau ditinggalkan salah satu, melainkan harus dilaksanakan secara utuh agar dalam beribadah bisa menyeluruh. Bila ikrar syahadat hanya berhenti di lisan saja tanpa didukung oleh aspek yang lain tentu masih jauh dari kesempurnaan. Syahadat harus diwujudkan dalam tiga bentuk sekaligus. Diyakini dalam hati, diucapkan secara lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian aqidah Islam akan semakin kokoh, melandasi kehidupan seseorang. Dan akan mengantarkan seseorang mencapai keelamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat
2. Kebenaran Agama Islam
Kebenaran Agama Islam telah dijamin oleh Allah melalui wahyunya yang terakhir dalam Alquran. Tidak ada keraguan sedikitpun akan kebenaran Alquran. Setiap orang Islam harus meyakini hal tersebut. Sebab itulah keyainan dasar yang akan menuntun hidup kita selanjutnya. Beberapa hal berikut dapat menjadi pegangan :
a. Islam adalah Agama yang dijamin kebenarannya dan kesempurnaannya oleh Allah. Tidak ada agama lain yang mendapatkan jaminan kebenaran. Sebagaimana firman Allah dalam wahyu-Nya yang terakhir, QS. Al-Maidah: 3
pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
b. Kebenaran agama Islam dapat dibuktikan melalui mukjizat yang ada dalam Alquran. Alquran bukanlah ciptaan manusia. Alquran adalah murni firman Allah. Melalui Alquran itulah kita dapat mengetahui hal-hal yang terjadi di masa lampau dan masa yang akan datang. Juga berbagai persoalan yang berkait dengan ilmu pengetahuan dan hal-hal lain yang tidak terjangkau oleh akal.
c. Mukjizat Alquran meliputi isi dan konstruksi. Secara isi Al-quran menjelaskan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Hal itu tidak mungkin diketahui oleh manusia. Secara konstruksi Alquran juga tersusun oleh huruf-huruf yang yang sangat rapi, dengan menggunakan angka kunci 19, yaitu angka yang menunjukkan jumlah huruf dalam bacaan “bismillahirrahmanirrahim.” Jumlah Bismillah dalam Alquran ada 114, habis dibagi 19. Demikian juga jumlah kata “Allah”, “Arrahman” dan “Arrahim”, masing-masing bila dijumlahkan dari seluruh ayat Alquran akan habis dibagi 19. Dan lain sebagainya.
d. Karena mukjizat Alquran, mustahil jika Alquran itu diciptakan oleh manusia. Manusia tidak akan sanggup menciptakan sebuah karya tulis yang memiliki kedalaman nilai, keunikan dan kekuaatn rohani yang terkandung dalam Alquran.
3. Alquran kitab terakhir
Beberapa hal yang perlu diyakini berkait dengan kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul, antara lain :
a. Kitab suci yang wajib diimani dalam Islam ada empat, yaitu kitab Taurot, diturunkan kepada Nabi Daud. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Musa, kitab Injil kepada Nabi Isa dan kitab Alquran kepada nabi Muhammad SAW. Tidak ada kitab suci lain setelah kitab suci Alquran.
b. Alquran kitab suci terakhir, penyempurna kitab suci sebelumnya. Selain menyempurnakan, Alquran juga meluruskan keyakinan yang telah diselewengkan. Semua kitap suci yang diturunkan kepada Rasul secara garis besar tidak ada perbedaan. Semua mengajarkan ketauhidah, selain aspek kehidupan yang lain.
c. Alquran adalah kitab suci yang membacanya dinilai ibadah. Tidak ada kitab lain yang membacanya bernilai ibadah. Hanya Alquranlah yang tiap huruf yang dibaca mengandung sepuluh kebajikan. Seseorang yang masih belum lancar membaca namun terus berlatih, mendapatkan pahala lebih. Pertama sebagai pahala membaca, kedua pahala kesulitan dan kesungguhannya dalam membaca.
d. Alquran adalah mukjizat yang mustahil dibuat manusia. Sehebat apapun manusia tidak akan sanggup membuat tulisan yang mengandung keajaiban jumlah huruf dan memiliki nilai tinggi seperti Alquran. Allah telah memberikan tantangan kepada seluruh jin dan manusia untuk membuat tulisan yang sepadan dengan Alquran, tapi tidak ada satupun makhluk yang sanggup melakukannya.
4. Nabi muhammad penutup nabi dan Rasul
a. Rasul yang dapat diketahui melalui Alquran dan Al-Hadits ada 25. Jumlah Nabi dan Rasul yang sesungguhnya tentu tidak hanya 25. Namun 25 nama Nabi dan Rasul itulah yang disebutkan dalam Alquran dan hadits yang harus wajib yakini.
b. Nabi Muhammad adalah Rasul yang terakhir penutup Nabi dan Rasul. Tidak ada rasul yang lain sesudah Nabi Muhammad SAW. Sehingga nabi Muhammad disebut sebagao khotimul anbiya’, penutup para nabi.
c. Kebenaran Nabi muhammad dapat dibuktikan melalui Alquran. Alquran telah menjelaskan tentang kerasulan Muhammad. Hal itu tidak dapat diragukan lagi oleh siapapun yang sudah mengaku beragama Islam.
Itulah beberapa hal yang menjadi prinsip dasar dalam Aqidah Islam. Sebagai sebuah prinsip dalam kehidupan maka ada beberapa hal mendasar yang perlu dipahami, antara lain :
a. Aqidah Islam adalah sesuatu yang diwahyukan oleh Allah. Aqidah Islam bukanlah hasil dari pemikiran atau perenungan seorang Muhamad. Aqidah Islam bersumber dari wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad. Aqidah Islam terkandung dalam Alqur’an, sehingga terpelihara kemurniannya sampai akhir jaman. Allah telah menjelaskan dalam Alqur’an surat An-Najm 53: 3-4
”Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.
Dengan demikian jelaslah bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi Muhamad, termasuk hal-hal yang berkait dengan Aqidah Islamiyah adalah benar benar wahyu dari Allah, bukan karangan atau rekayasa pikiran manusia.
b. Aqidah Islam pada dasarnya sama dengan Aqidah yang diajarkan oleh seluruh Nabi dan Rasul terdahulu.
Sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad mengajarkan Aqidah yang sama karena sumber ajaran tersebut adalah sama, yakni dari Allah SWT. Allah menyuruh para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah-risalah-Nya melalui wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Oleh karena itu risalah dan ajaran yang disampaikan tentu tidak berbeda, antara utusan satu dengan utusan yang lain, semua mengajarkan tauhit ke-Esaan Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Alqur’an surat Al-Anbiya 21: 25
“Dan kami tidak mengutus seorang rosul dan sekalian kaum,melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Aku(Alloh).maka sembahlah kalian akan aku.
Berdasarkan ayat tersebut sangat jelas bahwa inti dari Aqidah Islam adalah ajaran tauhid, yakni kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Ajaran tersebut sama sejak jaman Nabi Adam sampai Nabi terakhir, yakni Nabi Muhammmad SAW.
c. Aqidah Islam sesuai dengan fitrah manusia.
Manusia diciptakan Allah dengan dibekali fithrah ketuhanan. Artinya telah tertanam dalam diri manusia sejak lahir akan adanya Tuhan. Manusia yang tidak meyakini adanya Tuhan berarti telah mengingkari fithrahnya.
Setiap orang yang mau menggunakan akal dan hati akan menyadari bahwa ada dzat yang maha kuasa diluar dirinya, itulah Tuhan. Selanjutnya wahyu yang ada dalam kitab suci Alqur’an membimbing manusia bahwa Tuhan yang benar di antara berbagai Tuhan yang dipercayai manusia adalah Tuhan Allah. Itulah fithrah yang telah tertanam sejak manusia belum lahir. Sebagaimana firman-Nya dalam Alqur’an surat Al-A’raf 7: 172
•
”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)",
D. Metode Peningkatan Kualitas Aqidah
Ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas Aqidah seseorang, yaitu:
1. Metode Doktrin
Metode doktrin adalah metode meningkatkan kualitas Aqidah melalui pemahaman nilai nilai dasar yang bersumber dari Alqur’an dan Al-Hadits yang harus diyakini kebenarannya, yang merupakan doktrin dalam agam Islam. Ayat-ayat yang mengandung doktrin harus diterima kebenarannya tanpa alasan.
Metode doktrin dilakukan dengan cara mengkaji ayat ayat Qauliyah (Alqur’an dan Al-Hadits) sebagai pedoman dasar, untuk difahami dan diyakini kebenaranya. Ada sebagian ajaran atau nilai nilai yang terkandung dalam Alqur’an atau hadits yang dapat ditangkap oleh akal manusia. Namun ada sebagian nilai yang belum mampu dicerna karena keterbatasan akal manusia. Namun karena ajaran dan nilai nilai tersebut adalah wahyu Allah maka harus diyakini kebenarannya.
Misal mengajarkan konsep tauhid. Keesaan Allah adalah sebuah doktrin yang harus diterima tanpa alasan. Anak diberi dan ditanamkan sebuah konsep melalui dalil-dalil Naqli. Berkait dengan keesaan Allah, misal QS Al-Ikhlash 1-4
•
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Proses indoktrinasi ini dapat dilakukan dengan cara kajian dan dialog terhadap ayat ayat yang tersurat. Sehingga akal manusia yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, dan sebelumnya ragu menjadi yakin melalui dalil dalil yang difahami. Keyakinan Aqidah dapat dilakukan melalui tahap tahap berikut:
a. Syak, yaitu sama kuat antara membenarkan sesuatu atau menolaknya.
b. Zhan, salah satu lebih kuat dari yang lain karena ada dalil yang menguatkannya.
c. Gholabatudz-Dhan, cenderung lebih menguatkan salah satu karena sudah meyakini dalil sebenarnya. Keyakinan inilah yang disebut dengan Aqidah.
Metode doktrin ini juga disebut metode Deduksi, yakni mengkaji ayat ayat yang berisi konsep umum kemudian diuraikan menjadi bagian-bagian dan contoh-contoh dalam kehidupan sehari hari, sehingga dapat difahami dan diyakini, dan terjadi proses internalisasi.
Ada banyak ayat Alqur’an yang berisi nilai-nilai mendasar yang dapat diaajrkan kepada anak melalui metode doktrin, seperti QS. Al Baqarah 2:163
”Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
”Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, (Q.S Al Mukminun 91)
2. Metode Hikmah
Hikmah berarti kebijaksanaan, metode hikmah berarti metode peningkatan kualitas Aqidah melalui teladan dari Rasulullah, para sahabat dan orang orang tertentu yang memiliki kebijaksanaan. Rasulullah adalah tauladan utama bagi kehidupan umat Islam dengan kejernihan hati dan ketajaman pikiran, maka setiap sisi kehidupan beliau penuh dengan hikmah dan nilai nilai kebijaksanaan.
Ucapan dan tindakan Rasulullah menunjukkan perbuatan Aqidah yang luar biasa, yang kemudian tercermin dalam perilaku sehari hari. Dengan mengkaji sejarah kehidupan Rasulullah, akan menambah kekuatan iman seseorang. Sebab dari kajian tersebut seseorang akan mendapatkan nasaehat yang baik (mau’idzah hasanah) dan akan memupuk kekuatan.
Nilai kebijaksanaan juga dapat diperoleh dari kisah kisah para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, para waliyullah dan orang orang tertentu yang memiliki kebeningan hati dan kejernihan pikiran. Hal tersebut akan tercermin dalam sikap dan tindakan. Melalui kisah-kisah teladan itulah kita dapat memperoleh pencerahan kualitas iman.
Contoh mengajarkan aqidah melalui metode hikmah, yakni belajar melalui kisah sahabat rasulullah sebagai berikut :
Alkisah, suatu ketika Rasulullah S.A.W sedang bersiap berangkat ke medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit datang menemui Nabi. Dia rupanya ingin ikut perang bersama Rasulullah S.A.W. Amar ini salah seorang sahabat yang terkenal angkih dan sangat sulit menerima ajaran Nabi. Tetapi ternyata dia memiliki rasa simpati dan kagum kepada nabi, sehingga dia mendaftarkan diri untuk berperang bersama Nabi.
Nabi S.A.W menyambut kedatangan Amar dengan gembira. Namun kemudian nabi bertanya, Apa agamamu ? ”Yahudi”. Jawab Amar. Kemudian nabi berkata ” masuk Islamlah, lalu berperanglah”. Saat itu juga Amar menyatakan diri masuk Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat.
Para sahabat tidak mengetahui peristiwa aneh ini, kerana masing-masing sibuk menyiapkan bekal peperangan. Di kalangan kaumnya juga tidak mengetahui keIslamannya. Bagaimana Amar maju sebagai mujahid di medan peperangan. Dalam perang Uhud yang hebat itu Amar memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Malah berkali-kali pedang musuh mengenai dirinya, tidak dipedulikannya. Bahkan dia terus maju sampai saatnya dia jatuh pingsan.
"Untuk apa ikut ke mari ya Amar !" Demikian tanya orang yang heran melihatnya, sebab mereka menyangka Amar masih musyrik. Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, "Aku sudah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah akan memberikan syahid padaku dalam waktu yang tidak lama lagi."
Amar meninggal. Rohnya menghadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasul S.A.W, maka baginda pun bersabda,, "Amar itu nanti akan berada dalam syurga." Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Nabi S.A.W berkata, "Coba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah beribadah sekalipun juga terhadap Allah." itulah dia Amar bin Thabit."
Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Nabi S.A.W . Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. Akhirnya mati dalam keadaan syahid.
Jadi kunci utama adalah aqidah. Seseorang yang telah memiliki aqidah yang benar akan mendapatkan keberuntungan. Sebaliknya orang yang sampai akhir hayatnya terlepas dari tauhid, maka kerugian dan penyesalan yang akan didapatnya. Penyesalan yang tak terhingga, tidak ada sesuatu yang dapat menebusnya.
3. Metode kosmologi
Kosmologi adalah cabang astronomi yang menyelidiki asal usul hubungan ruang dan waktu di alam semesta. Atau ilmu tentang asal asul kejadian bumi, hubunganya dengan sistem matahari serta hubungan sistem matahari dengan jagat raya. Kosmologi merupakan cabang dari metafisika yang menyelidiki alam semesta sebagai sistem yang beraturan.
Metode kosmologi adalah metode peningkatan kualitas Aqidah melalui kajian kajian terhadap penciptaan alam semesta dan segala isinya. Alam semesta merupakan ayat-ayat Allah yang tersirat (ayat ayat kauniyah). Penciptaan alam dilakukan dengan proses yang luar biasa yang dapat dikaji dengan menggunakan akal pikiran manusia atau dalil akliyah. Melalui kajian ayat penciptaan alam dapat menambah keimanan seseorang. Contoh Q.S An Nahl 16 :11
• • • • •
”Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan”.
Ayat lain yang dapat menjadi bahan perenungan adalah tentang proses penciptaan manusia yakni Q.S Al mu’min 40:67
•
”Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)”.
Banyak sekali ayat-ayat dalam Alquran yang menggambarkan tentang penciptaan alam semesta, termasuk penciptaan manusia. Melalui ayat-ayat tersebut kita bisa mengokohkan keyakinan terhadap keesaan dan kekuasaan Allah.
4. Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah metode peningkatan kualitas Aqidah melalui langkah-langkah ilmiah yang dapat dibuktikan secara empiris. Hal ini dapat dilakukan melalui penelitian, eksperimen atau kajian kajian ilmiah yang ditempuh melalui langkah-langkah yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Metode ilmiah dapat dilakukan melalui penelitian ilmiah. Melalui langkah-langkah ilmiah itulah maka ditemukan jawaban dari permasalahan. Hasil penelitian itu yang diharapkan dapat membuka wacana pemikiran baru dan dapat meningkatkan kualitas keimanan seseorang.
BAB II
TAUHID
A. Pengertian Tauhid
Secara Etimologis (bahasa), kata Tauhid berasal dari bahas Arab, yaitu wahhada yuwahhidu tauhiidan, yang berarti mengesakan. Secara istilah, Tauhid berarti keyakinan akan keesaan Allah SWT. Dengan kata lain tauhid berarti mengesakan Allah. Maksudnya mengesakan Allah secara menyeluruh, baik dzat, sifat maupun perbuatan–Nya. Tauhid merupakan esensi dari keimanan kepada Allah. Tauhid juga merupakan inti dari ajaran dan tata nilai yang ada dalam Islam. Formulasi yang paling pendek dalam bertauhit adalah kalimat Tauhid, yaitu :
“Tidak ada Tuhan selain Allah”
Kalimat itulah yang disebut sebagai syahadad tauhid, artinya kesaksian terhadap keesaan Allah. Apabila disempurnakan maka ditambah dengan syahadad Rasul, yakni kesaksian bahwa Nabi Muhamad adalah utusan Allah. Bila ditulis secara lengkap maka kalimat syahadat berbunyi :
“Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhamad adalah utusan Allah.”
Kalimat syahadad itulah yang menjadi landasan dan inti dari ajaran Islam. Melalui kalimat tersebut manusia dapat dibedakan apakah dia seorang muslim atau kafir (musyrik). Namun demikian perbedaan antara iman dan kafir bukan hanya terletak pada ucapan dua kalimat syahadat, melainkan lebih jauh lagi terletak pada penerimaanya secara tulus terhadap adanya Allah dalam segala syariat yang diberikan melalui Rasulullah, selanjutnya ditunjukkan dengan penerapan ajaran Islam dalam kehidupan sehari hari.
Apabila manusia dapat memahami Esensi tauhid dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya niscaya ia akan mampu menahan diri dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat Islam, selanjutnya akan Membuat hidupnya terpelihara dari hal-hal yang dilarang oleh syariat agama.
Tauhid atau mengesakan Allah adalah fondasi dari bangunan kehidupan. Mengesakan Allah meliputi dzat, sifat dan perbuatannya. Mengesakan Allah dalam dzat berarti bahwa meyakini tiada Tuhan selain Allah itu sendiri. Tidak ada sekutu bagi Allah, tidak ada sesuatu yang menduakan. Tidak ada satu makhlukpun yang memiliki dzat yang sama dengan dzat Allah.
Mengesakan Allah dalam sifat yakni meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki kesempurnaan sifat. Tidak ada makhluk lain yang memiliki sifat seperti sifat yang dimiliki oleh Allah, seperti Qadrat, irodat, ilmu, hayat dan sebaginya. Sifat yang dimiliki oleh makhluk hanyalah bagian yang sangat kecil dibandingkan dengan kesempurnaan sifat Allah.
Allah memiliki sifat melihat (Bashar). Manusia juga bisa melihat. Kemampuan melihat yang dimiliki oleh manusia tidak sama dengan kemampuan Allah dalam melihat sesuatu.
Esa dalam perbuatan (Af’al), yakni meyakini bahwa Allahlah satu-satunya dzat yang memiliki kesempurnaan dalam melakukan pekerjaan. Tidak ada makhluk lain yang dapat melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh Allah. Allah maha pencipta. Manusia juga mampu menciptakan sesuatu. Kemampuan manusia dalam menciptakan sesuatu tidak sama dengan kemampuan Allah dalam mencipta.
B. Macam-macam Tauhid
Secara umum tauhid dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
1. Tauhid Uluhiyah, disebut juga tauhid ibadah. Tauhid Uluhiyah atau tauhid Ilahiyah berarti mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Illah (Tuhan) yang layak disembah. Tidak ada sesuatu yang layak ditaati secara mutlak kecuali hanya Allah. Tauhid ini mengandung makna bahwa dalam menjalankan ibadah semata-mata hanya kepada Allah, bukan yang lain. Lebih luas lagi dapat dimaknai bahwa ketaatan kepada makhluk didasarkan dan untuk mencapai tujuan ketaatan kepada Allah. Allahlah satu-satunya dzat yang layak untuk ditaati dan disembah. Sebagaimana firman-Nya dalam Quran surat Al-Baqarah 2: 163.
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
2. Tauhid Rububiyah, adalah tauhid ketuhanan, yaitu mengimani Allah sebagai satu-satunya Rabb (penguasa, pemelihara) alam semesta. Segala sesuatu yang ada di alam raya ini diciptakan oleh Allah dikuasai, dipelihara dan diatur segala urusannya oleh Allah. Tidak ada makhluk yang mampu melakukan hal tersebut kecuali hanya sebagian kecil dari ekmampuan Allah. Firman Allah dam QS. Al-A’raf 7: 54.
•
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy[548]. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.
3. Tauhid Mulkiyah
Tauhit Mulkiyah berarti mengimani Allah swt, sebagai satu-satunya penguasa di alam raya. Tidak ada satupun makhluk yang memiliki kemampuan menguasai alam seperti penguasaan Allah. Allah lah yang memiliki alam semesta. Karena itu ia bisa bebas melakukan apa saja terhadap apa yang dimiliki-Nya. Banyak sekali ayat- ayat Al-qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT. adalah pemilik bumi dan langit beserta seluruh isinya, sebagaimana firman Allah QS.Al-maidah 5:120
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Allah adalah pemilik,raja, penguasa alam samesta.Sebagai raja dia bebas memerintahkan apa saja. Secara operasional kepemimpinan Allah dilakukan oleh Rasul- Nya. Sepeninggal beliau kepemimpinan dilanjutkan oleh orang- orang yang beriman. Sebagaiman firman- Nya adalah QS. Al maidah 5: 55
•
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”.
C. Perilaku Orang Yang Bertauhid
Tauhid adalah landasan hidup sekaligus tujuan hidup, dengan memahami konsep tauhid secara utuh seseorang akan mampu menjadikan Allah sebagai satu satunya tujuan hidup. Dengan demikian seseorang akan selalu berupaya untuk menapaki jalan hidup sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh dzat yang menguasai kehidupan. Dan sebaliknya akan menjauhi hal hal yang dilarang.
Ciri ciri orang yang bertauhid dapat disebutkan antara lain sebagai berikut :
1. Berjiwa tenang
2. Berpribadi tangguh
3. Rajin melakukan ibadah
4. Rajin bekerja sebagai wujut ibadah
5. Selalu berserah diri kepada Allah.
Contoh kisah orang yang bertauhid, salah satunya adalah kisah Nabi Ibrahim dalam mencari tuhan. Dikisahkan tentang nabi Ibrahim, bahwa Ibrahim selama masa kanak-kanaknya dibesarkan didalam gua. Karena ada ancaman dari raja Namrud bahwa setiap bayi laki-laki yang lahir akan dibunuh. Maka Ibrahimpun disembunyikan oleh ibunya di dalam gua. Disanalah ia disusukan, diasuh, dibesarkan sampai dia menjadi agak besar. Setelah ia agak besar dan mulai dapat menjalankan pikirannya, di kala ditinggalkan oleh ibunya pergi ke kota mencari makanan, ibrahim mencoba melihat keluar gua dari celah-celah batu yang menutupi pintu guanya.
Ibrahim tercengang dan kagum melihat luasnya alam di luar guanya yang sempit itu. Luas dan luas sekali alam (bumi) ini tampaknya, berpinggirkan langit yang biru, terdiri dari daratan dan gunung- gunung serta jurang- jurang, penuh dengan tumbuh- tumbuhan dan tanaman- tanaman. Di waktu siang ada matahari bersinar terang, di waktu malam gelap gulita, hanya diterangi oleh bintang-bintang yang berkedip kedipan bertebaran sebanyak- banyaknya di angkasa luas.
Akhirnya ia bertambah besar dan akalnya bertambah maju, ia bukan hanya tertarik dan tercengang melihat keindahan dan kehebatan alam luas, matahari, bintang dan tumbuh-tumbuhan, tetapi akhirnya berfikir pula siapa yang menciptakan dan mengaturnya sedemikian rupa. Ia berkata dalam hatinya, siapakah yang mempergilirkan malam dengan siang, siapakah yang menjalankan matahari, bulan dan bintang- bintang, siapakah yang menumbuhkan tanam- tanaman dan tumbuh- tumbuhan, siapakah yang menghidupkan segala yang hidup dan yang mematikan segala yang mati?.
Sampailah Ibrahim kepada taraf mencari jawaban dari semua pertanyaan yang demikian itu. Ia tidak mempunyai teman untuk bertanya, selain ibunya yang datang hanya sebentar-sebentar saja sekedar mengantar makanan dan minuman baginya. Sekalipun ia bertanya, ibunya mempunyai perhatian terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu, sebab perhatian ibunya hanya tertuju bagaimana caranya menyembunyikan ibrahim agar jangan diketahui oleh seorang manusia pun, agar jangan dibunuh raja. Hal lain yang menjadi perhatian ibunya ialah bagaimana memperoleh makanan dan minuman untuk ibrahim dan bagaimana mengantar makanan dan minuman itu kepada ibrahim agar jangan diketahui orang lain.
Ya, Ibrahim terpaksa mencari dan memikirkan sendiri jawaban dari segala pertanyaan yang muncul di otak atau pikirannya itu. Akhirnya setelah ia agak besar, akalnya yang murni, fitrahnya yang suci, yang tidak dikotori dan dipengaruhi oleh siapa dan oleh apa pun, tidak pernah dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan palsu yang dipercayai oleh orang banyak, dengan semata- mata atas kekuatan akal dan pikiran sendiri yang diberikan Allah kepadanya, ia dapat meyakinkan adanya Tuhan yang menciptakan seluruh alam yang ada. Dan Tuhan itu pasti Maha Mengetahui segala sesuatu dan pasti Maha Esa.
Disinilah letak kehebatan Nabi Ibrahim itu. Sejak masa remajanya tanpa seorang guru atau pengasuh hanya semata-mata dengan akal yang dikaruniakan Allah kepadanya saja, ia sudah dapat mempergunakan akal itu sehingga memperoleh ilmu pengetahuan dan keyakinan (kepercayaan) yang tak dapat dicapai oleh orang lain, sekalipun orang lain itu hidup di alam bebas, beroleh harta kekayaan atau pangkat yang tinggi seperti Raja Namrud itu. Memang benar juga kalau ada sebagian orang berpendapat bahwa dengan akal atau pikiran semata-semata, manusia harus dapat mempercayai akan adanya Allah dan semua kebesaran-Nya, harus dapat mempercayai bahwa Allah itu Maha tunggal. Benar pula pendapat manusia yang mengatakan bahwa kadang-kadang ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia tidak secara ikhlas dan murni, atau harta kekayaan dan pangkat yang tinggi, tidak menjadikan manusia bertambah pintar, melainkan menjadikan manusia bertambah bodoh. Dan karena kebodohannya itu, mereka yang berilmu, yang berharta dan berkuasa itu sampai tak percaya kepada Allah sang pencipta, malah menyembah berhala-berhala, patung-patung dan mempercayai tukang-tukang tenung atau dukun-dukun palsu.
Demikianlah kehebatan Ibrahim, Pantaslah kalau Allah didalam kitab suci Al-Qur’an, mengucapkan salam kepada Ibrahim; salamun ’ala Ibrahim (salam kepada Ibrahim).” dan pantaslah kalau setiap orang beriman, yaitu kita orang Islam, lima kali mengerjakan shalat dalam sehari semalam, lima kali kita mengucapkan shalawat dan salam kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim yang beriman kepadanya, sesudah kita mengucapkan shalawat dan salam kepada Muhammad dan semua keluarganya yang beriman kepada Muhammad.
Setelah Ibrahim menjadi remaja, bahaya pembunuhan terhadap anak-anak yang baru lahir dilupakan dan tak dijalankan lagi, Ibrahim keluar dan membaurkan dirinya kedalam masyarakat yang bergelimang dengan kebodohan dan kepercayaan. Saat ia dapati manusia seluruhnya sudah sesat. Mereka melakukan berbagai kejahatan, menyembah berhala-berhala dan patung-patung, ada pula yang menyembah bintang, bulan dan matahari. Bapaknya sendiri bekerja membuat patung-patung dari kayu atau batu, lalu menjual patung-patung itu kepada masyarakat. Patung-patung itu mereka sembah. Bapaknya Sendiri pun menyembah patung-patung itu. Ibrahim mengeluh dan mengeluh, ia mengeluh kepada Allah, ”Ya Allah, hamba menderita batin, melihat kemungkaran dan kesesatan.“ untuk apakah gerangan akal dikaruniakan Allah, mereka pergunakan? Apakah semata-mata untuk membuat kerusakan dan mencari kekayaan?“ ia berdoa; Oh,Tuhan tunjukilah aku, kalau Allah tidak menunjuki daku, sungguh aku akan menjadi sesat seperti orang banyak yang sesaat dan aniaya itu.“
Allah lalu memberikan petunjuk kepada ibrahim. Dia diangkat Allah menjadai nabi dan Rasul. Kepadanya dikirimkan wahyu-wahyu sehingga keyakinannya kepada Allah sang pencipta, sekarang ini bukan lagi sebagai kesimpulan pendapat dan pemikiran semata, melainkan sebagai iman atau kepercayaan yang tak goyah lagi. Allah mengajarkan kepadanya segala sesuatu dan segala rahasia yang ada dibalik alam nyata yang dilihat Ibrahim. Diajarkan Allah kepadanya bahwa dibalik alam nyata ini ada alam gaib yang lebih luas. Setiap manusia yang mati akan dihidupkan kembali dalam kehidupan di alam akhirat.
Setelah bertahun-tahun lamanya Ibrahim memikirkan alam nyata ini, pikiran Ibrahim saat ini tertumpah ke alam akherat itu. Timbul pernyataan dalam hatinya bagaimana caranya Allah dapat menghidupkan semua manusia yang sudah mati itu di alam akherat nanti? Sekalipun ia sudah yakin akan kehidupan di alam akherat itu, tetapi ia ingin tahu bagaimana caranya Allah menghidupkan manusia di alam akherat. Ia berpikir dan berenung lagi, ingin tahu bagaimana caranya Allah menciptakan dan menghidupkan segala yang ada dan yang hidup ini? Bagaimana juga diihtiarkannya untuk mendapatkan penyelesaian dari apa yang direnungkan ini, ia tak berhasil mendapatkannya, karena yang ada di pikirannya ini adalah diluar letak kemampuan akal dan pikiran manusia, termasuk akal dan pikiran Ibrahim sendiri. Dia menjadi gelisah dan tak tenang kembali. Lalu Nabi Ibrahim memohon kepada Allah, agar Allah memperlihatkan kepadanya, bagaimana Allah mengadakan kebangkitan itu, bagaiman caranya Allah menghidupkan apa yang sudah mati itu kembali? Karena doa yang luar biasa ini, Allah bertanya kepada Ibrahim, “Apakah engkau belum beriman,ya Ibrahim?“ Ibrahim menjawab, Sekali-kali tidak, ya Allah, bukankah Engkau telah memberi wahyu kepadaku, dan aku telah percaya dan membenarkannya, tetapi dalam hal ini adalah semata- mata supaya lebih terang kepadaku dan lebuh tenang jiwaku ini.“
Permohonan Nabi Ibrahim ini dikabulkan Allah. Lalu Allah memerintahkan agar Ibrahim menangkap empat ekor burung itu dipotong- potong, diceraikan tiap- tiap tubuhnya, supaya Ibrahim melihat sendiri bagaimana cara burung itu dihidupkan Allah lagi. Potong-potongan kecil dari keempat ekor burung itu dilumatkan menjadi bubuk yang halus, lalu dicampuradukkan semuanya. Campuran itu lalu dibagi menjadi empat onggok. Masing- masing onggok disuruh ditaruh dipuncak empat bukit yang berjauhan letaknya. Nabi Ibrahim lalu diperintahkan Allah memanggil burung-burung yang sudah hancur lumat itu. Baru saja Nabi Ibrahim memanggilnya, masing- masing onggok burung yang hancur itu lalu terbang menjadi burung biasa kembali. Berbulu, berparuh, tak ada beda sedikit juga dengan burung- burung itu sebelum hancur. Masing- masing burung itu menuju kepada Nabi Ibrahim agar Nabi Ibrahim dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana caranya Allah menghidupkan apa yang sudah mati dan hancur. Dengan cara semudah itu pulalah Allah nanti akan menghidupkan dan membangkitkan Semua manusia yang sudah mati, dikampung akherat untuk dihisab dan diperhitungkan segala amal dan kejahatan tiap-tiap manusia. Untuk diadili dan dibalas setiap amal itu dengan pembalasan yang setimpal . Amal baik dengan balasan yang baik, dan amal yang jahat, dengan balasan yang jahat pula. ”Bila Allah telah menghendaki sesuatu, tidak ada seseorang pun yang dapat menghalangi adanya sesuatu itu. Sungguh Allah Maha kuasa dan Maha Bijaksana.” Itulah proses yang ditempuh oleh Ibrahim dalam mencari tuhan, dengan menggunakan akal ikirannya.
D. Menerapkan Perilaku Tauhid Dalam Keseharian
Seseorang yang memiliki kekuatan Aqidah akan tercermin dalam bentuk akhlak keseharian. Tauhid yang benar akan menghasilkan Aqidah yang kuat. Aqidah yang kuat akan melahirkan akhlaq yang mulia.
Beberapa bentuk perilaku tauhid dalam keseharian antara lain :
1. Senantiasa memupuk keimanan dengan mengkaji ayat ayat Allah, baik ayat-ayat Qauliyah maupun kauniyah.
2. Menjadikan semua yang ada di alam raya dan semua peristiwa yang terjadi sebagai pelajaran dan sumber hikmah yang dapat meningkatkan kualitas iman.
3. Hasil dari kekuatan Aqidah akan melahirkan kontrol diri yang kuat, atau pengawasan internal yang tangguh, seseorang akan mampu mengendalikan diri untuk mengikuti perintah sang Kholiq dan menjauhi hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan syariah Islam.
4. Senantiasa memperbaharui keimanan dengan memperbanyak ibadah dan dzikir pada Allah, hal itu merupakan konsekuensi logis dari hati yang selalu dibersihkan, selanjutnya akan muncul dorongan untuk melaksanakan hal hal yang baik.
5. Menunjukkan perilaku sehari hari yang tercermin dalam akhlakul karimah.
BAB III
SYIRIK
A. Pengertian Syirik
Syirik berarti menyekutukan Allah dengan sesutu hal yang lain. Dengan kata lain Syirik adalah menuhankan atau menyekutukan sesuatu selain Allah. Seseorang mengakui adanya Allah, tapi dia juga menuhankan mengagungkan yang lain. Bentuk penyekutuan terhadap Allah dapat dilakukan dalam dimensi uluhiyah, rububiyat, atau mulkiyah.
Syirik dalam dimensi uluhiyah berarti menyekutukan Allah dalam hal penyembahan, seperti menyembah selain Allah, berdoa dan memohon sesuatu kepada selain Allah, menggantungkan nasib, rizki dan kehidupan kepada selain Allah.
Syirik dalam dimensi rububiyah, berarti menyekutukan Allah dalam hal yang berkait dengan penciptaan dan pemeliharaan makhluk. Contohnya adalah meyakini bahwa ada makhluk yang mampu mendatangkan kemanfatan dan menjauhkan kemudharatan, sehingga seseorang menggantungkan nasibnya kepada selain Allah. Meyakini kekuatan azimat atau kekuatan lain yang mendatangkan keberuntungan dan lain sebagainya.
Syirik dalam dimensi mulkiyah, berarti menyekutukan Allah dalam hal yang berkaitan dengan kekuasaan, misal mematuhi sepenuhnya pemimpin non muslim (bukan karena terpaksa). Padahal dia jelas jelas menyekutukan Allah, mengharamkan segala sesuatu yang dikharamkan Allah, dan melarang apa yang diperintahkan Allah. Contoh lain adalah mendewakan pangkat dan jabatan, sehingga melupakan kewajiban kepada Allah, padahal sesungguhnya hanya milik Allahlah kekuasaan di alam raya ini.
Sesungguhnya menyekutukan Allah dalam bentuk apapun atau dengan siapapun, baik itu jelas maupun samar samar, sebagian atau seluruhnya tentu perbuatan semacam itu dilarang keras. Hal itu berarti telah meremehkan Allah sebagai dzat yang maha kuasa. Sebagai umat Islam yang baik harus terus menjaga kemurnian aqidah dari hal hal yang menjurus kepada kemusyrikan. Sebab musyrik adalah satu satunya dosa yang tidak bisa diampuni oleh Allah.
B. Macam Macam Syirik
Syirik dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Syirik besar (syirik akbar)
Yaitu mempercayai adanya Tuhan selain Allah. Bentuk syirik besar adalah seperti menyembah Tuhan selain Allah, atau menuhankan sesuatu yang lain selain Allah. Syirik inilah yang merupakan dosa besar dan tidak akan diampuni oleh Allah kecuali dia telah bertaubat sebelum meninggal. Bagaimana Allah mau mengampuni, sedang keberadaan Allah saja tidak dipercayai. Firman Allah Dalam QS An-Nisa 4; 48.
•
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Q.S An Nisa 4: 48)
2. Syirik kecil (syirik asghor)
Syirik kecil adalah semua perkataan dan perbuatan yang akan membawa seseorang kepada kemusyrikan. Syirik kecil apabila dilakukan berulang-ulang akan jatuh pada syirik besar. Syirik kecil sesungguhnya masih dapat diampuni, namun bila hal tersebut terus dilakukan dapat menjadi syirik besar, maka akan menjadi dosa yang tidak terampuni.
Ada beberapa amal perbuatan yang termasuk dalam kelompok syirik kecil seperti :
a. bersumpah dengan nama selain Allah, sebagaimana Hadits Nabi:
“Bagi siapa yang bersumpah dengan nama selain Allah berarti dia telah kufur atau syirik” (HR.Tirmidzi)
b. Menggunakan mantra untuk menolak kejahatan, pengobatan, dan lain sebagainya. Sabda Rasul :
“Sesungguhnya mantra, azimat dan guna-guna itu adalah perbuatan syirik” (HR.Tirmidzi).
c. Memakai azimat untuk tujuan tertentu, sabda Nabi :
“Dari ‘uqbah Bin Umar, Rasulullah bersabda, barang siapa menggantungkan diri kepada azimat maka Allah tidak akan menyempurnakan (imannya), dan barang siapa menggantungkan diri kepada azimat maka Allah Tidak akan mempercayakan kepadanya”. (HR. Ahmad).
d. Sihir
“Barang siapa yang membuat satu simpul maka sungguh ia telah menyihir. Barang siapa menyihir maka sungguh ia telah berbuat syirik”. (HR.Nasa’i).
e. Bernadzar kepada selain Allah.
“Barang siapa yang bernadzar untuk berbuat taat kepada Allah maka hendaklah melaksanakan nadzarnya itu, dan barang siapa yang bernadzar untuk mendurhakai Allah, maka janganlah mendurhakai-Nya”.
f. Ramalan dan perbintangan (Astrologi).
“Barang siapa datang pada tukang ramal kemudian bertanya tentang sesuatu dan membenarkan apa yang dikatakannya, tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari “. (HR.Muslim).
g. Menyembelih binatang atau mempersembahkan qurban bukan kepada Allah SWT.
“Dari Ali RA, Rasulullah SAW bersabda kepadaku dengan empat kalimat, yaitu Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya, Allah melaknat orang yang mengubah batas tanah miliknya”. (HR.Muslim)
h. Riya’
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti terjadi pada kalian adalah syirik kecil’. Sahabat bertanya, “apa syirik kecil ya Rosulullah?, Rosulullah menjawab ‘Riya’.”
Seiring dengan perkembangan jaman, bentuk syirik tentu semakin berkembang. Misalnya orang yang menuhankan harta benda, pangkat, jabatan dan lain sebagainya. Jadi syirik kecil sesungguhnya tidak hanya contoh- contoh diatas yang bersifat tradisianal, namun ada syirik-syirik baru seiring dengan perkembangan modernisasi. Yang jelas segala bentuk perbuatan yang melenakan dan mendorong pada menyekutukan Allah dapat jatuh kepada perbuatan syirik.
C. Perilaku syirik
Berdasarkan rambu-rambu dan kriteria tentang syirik diatas, maka kita dapat mencermati berbagai bentuk perilaku yang ada di tengah masyarakat, apakah hal tersebut masuk dalam kategori syirik atau bukan. Contoh perilaku syirik yang sudah jelas adalah menyekutukan Allah atau menyembah kepada selain Allah. Sedangkan contoh syirik kecil antara lain:
1. Membuat sesaji dengan tujuan tertentu.
2. Memakai azimat untuk kedigdayaan.
3. Menggunakan ilmu guna-guna.
4. Ramalan nasib.
5. Menuhankan harta benda, artinya menganggap harta benda adalah segalanya .
6. Menuhankan pangkat jabatan, artinya menganggap pangkat dan jabatan adalah segalanya. Dan sebagainya.
D. Akibat Perbuatan Syirik.
Segala sesuatu yang dilarang oleh Allah pasti mengandung nilai negatif dan berakibat buruk bagi dirinya. Perbuatan syirik adalah sesuatu yang dilarang dalam agama. Tentu hal itu mengandung akibat negatif bagi dirinya. Beberapa akibat dari perbuatan syirik antara lain:
1. Tidak memiliki ketenangan hidup yang sesungguhnya, karena tidak memiliki sandaran fertikal.
2. Tidak memiliki kejernihan hati yang sesungguhnya, karena tida ada tindakan dan proses penjernihan hati melalui banyak dhikir Asma Allah.
3. Mudah mengalami putus asa, karena harapan hidupnya hanya sepanjang dunia, tidak memiliki target kehidupan di akhirat.
E. Menghindari Syirik
Mengingat bahaya dari perbuatan syirik maka umat Islam harus hati-hati agar tidak jatuh pada perbuatan syirik. Karena syirik tergolong dosa besar, bahkan syirik akbar tidak bisa diampuni bila yang bersangkutan belum taubat hingga akhir hayat, beberapa upaya agar terhindar dari perilaku syirik antara lain:
1. Memahami ajaran ajaran prinsip dalam Islam, sehingga dapat mengetahui hal hal yang dilarang dan hal hal yang diperbolehkan, terutama terkait dengan Aqidah Islam. Karena Aqidah merupakan fondasi batiniyah dalam kehidupan.
2. Menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat mengarah pada kemusyrikan dan senantiasa mengarahkan diri sendiri untuk melakukan hal hal positif sesuai dengan aturan syariat Islam.
3. Memperbanyak amal kebajikan, sehingga apabila seseorang tanpa disadari telah terjatuh kepada perbuatan syirik dapat dihapus dengan amal kebaikan yang dilakukan. Sebab kebaikan itu dapat menghapus keburukan.
4. Memperbanyak ibadah kepada Allah. Sebab semakin banyak seseorang melakukan ibadah kepada Allah maka hubungan dengan Allah akan semakin dekat. Kedekatan seorang hamba dengan sang kholik akan menjauhkanya dari syirik.
5. Senantiasa mohon pertolongan kepada Allah agar selalu dibimbing kejalan yang benar. Karena manusia adalah makhluk yang lemah, mudah terpengaruh oleh godaan lingkungan. Tanpa pertolongan Allah, teramat berat bagi seorang hamba untuk mengarungi samudra kehidupan dalam menghadapi berbagai cobaan.
F. Hikmah menghindari perilaku syirik
Beberapa hikmah yang dapat diperoleh bila seseorang mampu menghindarkan diri dari perbuatan syirik, antara lain :
1. Memiliki ketenangan batin, karena punya sandaran fertikal yang kokoh. Seberat apapun cobaan hidup yang dihadapi, bila seseorang memiliki sandaran batin secara fertikal yang kuat maka tidak ada sesuau yang mampu menggoyahkan.
2. Tidak mudah putus asa dengan berbagai persoalan hidup yang dihadapi. Dengan konsep tawakkal, berserah diri kepada Allah maka tidak ada kata putus asa. Semua sudah ada yang mengatur, tidak ada sesuatu yang ditetapkan oleh Allah hanya sia-sia. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Orang yang memiliki keyakinan penuh kepada Allah tanpa dikotori perilaku syirik akan terhindar dari rasa putus asa
3. Terjamin kebahagiaan dunia dan akhirat. Tidak ada sesuatu yang dapat memberikan jaminan kebahagiaan dunia akhirat kecuali aqidah yang lurus sebagai landasan dan tujuan hidup. Kebahagiaan apapun tanpa dilandasi aqidah yang benar hanyalah semu belaka. Kebahagiaan dunia mungkin bisa dicapai, namun siapa bisa menjamin kebahagian akhirat. Kecuali keyakinan yang lurus
BAB IV
AKHLAK
A. Pengertian Akhlak
Secara bahasa (etimologis) Akhlaq bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai tingkah laku atau tabiat. Secara istilah ada beberapa pengertian. Merurut Imam Ghozali akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Menurut Ibnu Maskawaih, akhlak adalah perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan kegiatan, tanpa melalui pertimbangan. Sedangkan makna secara singkat, akhlak adalah Reaksi spontan. Pemahaman yang utama dari beberapa pengertian di atas, akhlak adalah terciptanya keterpaduan antara kehendak sang kholiq (Allah SWT) dengan perilaku makhluk (manusia ).
Perilaku manusia terhadap orang lain dan lingkungan alam sekitarnya mengandung nilai ahklak yang mulia manakala tindakan tersebut didasarkan pada kehendak Sang Kholiq. Tindakan yang dilakukan terhadap diri dan lingkungan tersebut dilakukan secara spontan. Tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.
Jadi akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia. Dia akan muncul secara spontan bila diperlukan, tanpa dorongan dari luar. Bila seseorang melakukan kebaikan, seperti memberikan bantuan terhadap bencana alam, namun tindakan tersebut dilakukan setelah diingatkan dan didorong oleh lingkungannya, maka hal itu belum berarti akhlak, karena masih membutuhkan dorongan. Apabila hal tersebut terus diulang dan pada akhirnya tindakan membantu orang lain itu dilakukan secara spontan saat orang lain membutuhkan bantuan, maka itulah yang dinamakan akhlak.
B. Ruang lingkup akhlak.
Ruang lingkup yang dibahas dalam akhlak antara lain:
1. Hubungan manusia denga Allah
2. Hubungan manusia dengan diri sendiri
3. Hubungan manusia dengan sesama manusia
4. Hubungan manusia dengan alam lingkungan
Contoh hubungan manusia dengan Allah :
1. Tidak menyekutukan Allah
2. Mentaati dan melaksanakan perintah Allah
3. Mencintai Allah
4. Selalu mencari keridhoan Allah
5. Bertaubat kepada Allah
6. Bersyukur kepada Allah
7. Beribadah dan berdoa kepada Allah.
Contoh hubungan manusia dengan diri sendiri antara lain :
1. Menjaga kesehatan
2. B..Memberikan hak kepada tubuh/fisik untuk istirahat.
3. Memberikan makanan atau gizi yang memadai.
4. memberikan hak tubuh untuk berolah raga.
5. Tidak memasukkan zat-zat atau obat-obat yang berbahaya kedalam tubuh
6. Tidak memberikan beban pekerjaan melebihi kekuatan fisik.
Contoh hubungan manusia dengan sesama :
1. Saling menolong (ta’awun).
2. Perasaan senasib sepenanggunan (solideritas)
3. Saling menghargai (toleransi).
4. Berfikir Positir terhadap orang lain (husnudzan).
5. Menghindari fitnah, ghibah, namimah.
Contoh hubungan manusia dengan alam semesta :
1. Tidak merusak alam atau memelihara kelestarian alam.
2. Menaruh sampah pada tempatnya.
3. Banyak emnanam pohon di lahan yang kosong.
C. Akhlak, Etika, Moral dan Budi Pekerti
Ada beberapa istilah yang memiliki makna hampir sama, yakni akhlak, etika, moral, dan budi pekerti semua istilah tersebut membahas tentang baik dan buruk perbuatan manusia. Namun sesungguhnya masing-masing istilah tersebut mengandung makna yang berbeda, lebih jelasnya adalah sebagai berikut :
1. Akhlak, adalah ketentuan baik dan buruk, sumbernya adalah Alqur’an dan Hadits.
2. Etika, disebut juga ilmu akhlak, yakni ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Bersumber dari akal pikiran.
3. Moral, adat kebiasaan, yakni penilaian terhadap aktivitas manusia berupa baik buruk dan benar salah. Tolak ukurnya adalah nurma yang berlaku dimasyarakat.
4. Budi pekerti, adalah perilaku yang baik. Bersumber pada norma keluarga.
Dengan demikian jelaslah bahwa akhlak memiliki perbedaan mendasar dengan etika dari segi sumbernya. Karena akhlak bersumber dari Al-qur’an dan hadits, maka nilai nilai yang terkandung dalam akhlak bersifat baku dan permanen. Tidak ada perbedaan antara jaman dulu dan jaman sekarang dan jaman yang akan datang. Juga antara satu dasar dengan dasar yang lain, sementara jika etika, moral dan budi pekerti, karena sumbernya adalah akal pikiran dan norma yang berlaku ditengah masyarakat. Maka setiap saat bisa saja berubah, tergantung pada tingkat pemikiran seseorang dan situasi kondisi masyarakat setempat. Konsekuensi lebih lanjut, tentu nilai yang terkandung sangat mungkin berubah dari waktu ke waktu, dari satu tempat dibanding tempat yang lain.
D. Kemuliaan Akhlak
Akhlak dalam Islam menempati kedudukan yang sangat mulia. Hal itu dapat dilihat dari beberapa hadits Rasul yang menunjukkan penghargaan terhadap akhlak yang mulia, antara lain :
1. Misi utama Rasulullah adalah menyempurnakan Akhlak.
“Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Baihaqi)
2. Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya.
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”
3. Inti agama adalah akhlak yang baik.
“Ya Rasulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab “agama adalah akhlak yang baik”.
4. Akhlak yang baik memberatkan timbangannya
“Tidak ada satupun yang akan lebih memberatkan timbangannya (kebaikan) seorang hamba mukmin nanti dan pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi).
5. Paling dekat dengan Rasulullah di hari akhir.
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “maukah kalian aku beritahukan siapa di antara kalian yang paling aku cintai dan paling dekat tempatnya denganku nanti hari kiamat? Beliau mengulang pertanyaannya dua atau tiga kali. Lalu sahabat menjawab “tentu ya Rasulullah” Nabi bersabda “yaitu yang paling baik akhlaknya di antara kalian (HR Ahmad)
E. Metode Peningkatan Kualitas Akhlak
Secara umum metode peningkatan kualitas akhlak ada dua, yakni :
1. Metode Deduktif, yaitu metode meningkatkan kualitas akhlak melalui konsep umum, kemudian dijabarkan menjadi contoh-contoh kecil. Misal, konsep tentang Birrul walidain, berbuat baik kepada kedua orang tua. Secara umum berbuat baik kepada kedua orang tua adala hal yang mendasar. Kemudia konsep tersebut dijabarkan menjadi contoh-contoh yang lebih rinci. Misalnya bagaimana cara berbakti kepada orang tua yang masih hidup, bernakti kepada orang tua yang sudah meninggal dunia, dan sebagainya.
2. Metode induktif, yaitu metode meningkatkan kualitas akhlak melalui telaah terhadap contoh-contoh kasus yang ada dalam keseharian, kemudian diambil satu kesimpulan umum.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas akhlak, antara lain :
1. Mengkaji sumber akhlak, yaitu Alquran dan Assunnah.
2. Mempelajari sejarah dan akhlak Rasulullah sebagai contoh tauladan.
3. Mempelajari akhlak para sahabat Nabi.
4. Mengkaji akhlak para alim ulama.
5. Mempelajari kisah-kisah teladan orang-orang tertentu.
F. Peningkatan kualitas akhlak dalam keseharian.
Beberapa hal dapat dilakukan sebagai bentuk upaya meningkatkan kualitas akhlak dalam keseharian, antara lain :
1. Selalu belajar dan belajar dari ayat-ayat Qauliyah dan kauniyah sehingga mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.
2. Menanamkan tekad dalam hati untuk selalu berpikir positif, bersikap positif dan berperilaku positif.
3. Bergaul dengan orang-orang yang sholih, orang-orang yang berakhlak mulia sehingga kita terbawa untuk taat dan berakhlak yang baik.
4. Menerima kritik, saran dan masukan dari siapapun baik kawan maupun lawan guna memperbaiki kualitas priabadi.
5. Selalu memohon kepada Allah agar diberi bimbingan dan kekuatan untuk melakukan hal-hal yang positif dan meninggalkan hal-hal yang negatif.
BAB V
ASMAUL HUSNA
A. Pengertian
Asmaul husna secara bahasa berarti nama-nama yang baik. Secara istilah berarti nama-nama Allah yang bagus dan indah. Ada beberapa ayat Alqur’an yang menyebutkan tentang Asmaul husna, antara lain :
QS. Thoha 20: 8
“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik)”.
QS. Al-Hasyr 59: 24
“Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Asmaul Husna adalah nama-nama Allah yang diperintahkan untuk dibaca dalam berdoa atau berdzikir. Sebagaimana firman-Nya dalam QS.Al-A’raf 7: 180
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang Telah mereka kerjakan”.
Asmaul husna merupakan alat untuk berdoa yang efektif dan efisien, karena mudah dibaca, pendek, ringan dan mencakup seluruh urusan dunia dan akhirat. Barang siapa yang membacanya, jaminannya adalah surga. Apa lagi yang lebih baik dari itu. Sabda Rasulullah SAW.
“Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, maka barang siapa menghafal (membacanya setiap hari) niscaya masuk surga”.(Sunnah Tirmidzi jus 5 hal 192)
B. Kandungan Asmaul Husna
1. Arrahman (Maha pengasih)
Ar-Rahman artinya Maha Pengasih. Allah swt. mempunyai kasih sayang yang sangat luas dan meliputi seluruh makhluk-Nya. Allah swt menyayangi seluruh makhluk-Nya dengan memberikan berbagai macam kenikmatan. Kenikmatan yang diberikan oleh Allah sebagai bentuk kasih sayang-Nya tidak dapat dihitung. Allah swt. berfirman (Q.S Thaha 20: 5)
“(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy”.
(Al-Mulk 67: 29)
•
“Katakanlah: "Dia-lah Allah yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata".
Ar-Rahman adalah salah satu nama yang dimiliki oleh Allah, artinya dzat yang maha pengasih. Tidak ada satu makhlukpun yang boleh memakai nama tersebut kecuali dilengkapi dengan kata Abdul, menjadi Abdurrahman yang berarti hamba dari dzat yang maha pengasih.
Kemudian yang perlu ditekankan, rahmat Allah SWT. meliputi seluruh makhluk-Nya, baik itu seorang mukmin atau kafir, orang shalih maupun orang yang banyak bermaksiat. Mereka sama-sama mendapatkan rizki dari Allah swt, disembuhkan dari penyakit, dan dihindarkan dari marabahaya. Namun di hari akhirat nanti rahmat-Nya hanya diberikan khusus untuk orang orang mukmin.
Rahmat adalah kedudukan yang sangat tinggi, oleh karena itu Allah swt menyebutkan bahwa diutusnya Rasulullah SAW ke dunia adalah untuk membawa rahmat. Allah swt. Berfirman (Al-Anbiya’ 21 :107)
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Rasulullah saw. sendiri juga bersabda, ”orang orang yang mengasihi dan menyayangi akan dikasihi dan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih”. Maka kasihilah orang-orang di bumi, niscaya engkau akan dikasih oleh Yang dilangit.”
Beliau juga bersabda, ”Barang siapa tidak mau mengasihi, maka diapun tidak akan dikasihi.” Oleh karena itu setelah mengetahui bahwa Allah swt mempunyai sifat pengasih maka kita sebagai hamba Allah swt juga hendaknya mau mengasihi orang lain.
Bentuk kasih sayang itu misalnya ada orang yang mengalami keterbatasan fisik atau cacat. Maka hendaknya kita memandangnya tidak dengan meremehkan, melainkan dengan penuh kasih sayang. Kita bantu apa yang bisa kita lakukan. Sebab tidak ada orang yang menghendaki dirinya terlahir cacat. Semua orang ingin terlahir sempurna tanpa kekurangan. Kalau ternyata ada orang yang mengalami keterbatasan, semua itu terjadi sebagai anugerah Allah dan sebagai cobaan untuk menguji tingkat kesabaran seseorang.
2. Ar-Rahim (Maha Penyayang)
Ar-Rahim adalah nama bagi Dzat Allah swt. yang Maha Suci, dan juga merupakan salah satu dari sifat Nya. Firman Allah dalam QS. Al-An’am 6 : 54.
“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: "Salaamun alaikum]. Tuhanmu Telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan Kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Ar-Rahim (Kasih sayang) adalah nama dan sifat yang juga diletakkan oleh Allah dalam hati setiap hamba-Nya yang beriman. Namun kasih sayang Allah tak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Kasih sayang Allah tak tertandingi, karena diberikan kepada seluruh makhluknya yang beriman tanpa pandang bulu.
Umat Islam hendaknya meneladani sifat Ar-Rahim Allah, dengan menunjukkan rasa kasih sayang terhadap sesama manusia, bahkan sesama makhluk. Seseorang yang mampu meneladani sifat ini, dia akan tumbuh rasa kasih sayang yang tulus kepada siapapun, bahkan kepada binatang yang menjijikkan sekalipun. Rasa kasih sayang itu didasari oleh perasaan bahwa semua ini adalah ciptaan Allah. Allah menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia.
Selain itu seorang muslim hendaknya juga selalu membantu saudaranya dalam memenuhi kebutuhannya. selalu berbuat baik dan menyayangi orang-orang fakir yang ada disekitarnya. Sehingga mereka terangkat dari kefakiran. Karena mengangkat dari kefakiran sebenarnya bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, dengan hartanya, kedudukannya, perantaraannya, dan dengan doanya.
3. Al-Malik (Maha merajai)
Al-Malik (raja) artinya Allah berkuasa atas segala sesuatu, baik dalam hal memerintah ataupun melarang. Selain itu Al-Malik juga bermakna yang memiliki segala sesuatu. Dia tidak membutuhkan kepada sesuatupun, tapi sebaliknya, segala sesuatu membutuhkan-Nya. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Hasyr 59: 23
•
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.
Allahlah yang merajai dan menguasai seluruh alam raya ini, sebab Allah lah yang menciptakan. Manusia hanya bisa menelaah tentang teori-teori penciptaan alam Namun manusia tidak punya daya untuk menciptakan dan menguasainya. Allahlah dzat yang maha merajai.
Orang yang mampu meneladani sifat ini akan menunjukkan sifat dan kemampuannya untuk menguasai sesuatu untuk hal-hal yang baik. Menguasai sesuatu untuk memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Karena Allah memang memberikan sebagian dari sifat itu kepada manusia, agar manusia dapat mengembangkannya untuk hal-hal yang positif. Firman Allah dalam QS. Al-Imran 3: 26
•
“Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Setelah memahami makna dari nama Allah Al-Malik ini maka beberapa hal dapat menjadi pelajaran :
a. Tidak selayaknya kita merendahkan diri didepan salah satu makhluk-Nya.
b. Kita juga seharusnya meyakini bahwa segala sesuatu yang ada ditangan Allah lebih terjaga daripada apa yang ada ditangan kita, karena Allahlah yang mempunyai segala sesuatu.
c. Hendaknya kita merasa cukup dengan Allah swt, dan tidak merasa bergantung kepada Yang lain .
d. Hendaknya kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di tangan kita sejatinya adalah milik Allah swt. Kapan saja dan dengan cara bagaimanapun Dia bisa mengambilnya kembali. Dari situ kita tidak perlu merasa khawatir akan apa yang kita miliki saat ini.
4. Al-Quddus (Maha Suci)
Al-Quddus artinya Allah maha suci. Suci dari segala sesuatu yang bersifat kurang dan cacat. Sebaliknya Al-Kuddus adalah sebuah nama yang mengandung segala sifat kesempurnaan, yang terpuji dengan segala kebaikan dan keutamaan. Nama ini berasal dari bahasa Arab, Al-Qudsu, yang berarti kesucian. Oleh karena itu Masjidil Aqsho dinamakan Al- Baitul Muqaddas yang berarti masjid yang dibersihkan dari segala macam dosa.
Malaikat Jibril juga dinamakan Ruhul Qudus karena beliau sangat suci dan bersih dari kesalahan, terutama saat menyampaikan wahyu kepada para Rasul. Firman Allah dalam QS. Jumu’ah : 1
•
“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. raja, yang Maha suci, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Dengan mengetahui dan merenungkan nama Allah yang satu ini hendaknya kita selalu mensucikan diri kita dari segala keburukan, selalu menghiasi diri kita dengan perbuatan-perbuatan baik, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang membuat kita terhina. Allah maha Suci. Manusia dapat meneladani kesucian Allah dengan terus menerus melakukan pembersihan diri, di tengah kesibukan yang tida habisnya.
5. As-Salam ( Maha Memberi Kesejahteraan )
As-Salam berarti maha memberi kesejahteraan, atau maha menyelamatkan. Maksudnya Allah dzat yang memberikan kesejahteraan bagi semua makhluknya. Bahkan seekor semut yang amat kecilpun oleh Allah diberi kesejahteraan. Bahwa ada sebagian manusia yang tidak mendapatkan kesejahteraan, hal itu karena kesalahan manusia sendiri yang tamak terhadap orang lain atau usahanya yang kurang maksimal.
Hanya Allahlah dzat yang memberikan kesejahteraan dan keselamatan. Karena keagungan nama inilah, maka orang yang melakukan dzikir dengan menyebut As-salam akan merasakan ketenangan dan rasa aman dalam hatinya. Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr : 23
•
”Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.
Dari nama ini juga asal kata nama agama Islam. Satu-satunya agama yang mendapat ridha dari Allah swt. Dan satu-satunya agama yang mendapatkan jaminan keselamatan dunia dan akhirat Sebagaimana Allah swt berfirman dalam QS. Al-Imran 3: 85.
”Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.
Kemudian Allah swt juga menjadikan nama-Nya ini sebagai sebuah penghormatan bagi hamba-Nya. Firman Allah swt.(Al-Azhab 33: 44)
•
”Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam[1224]; dan dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka”.
Selain itu, Allah swt. Juga menjadikan surga ’Darus Salam’ sebagai tempat kembali bagi orang- orang yang beriman. Bahkan Allah swt mengajak hamba-Nya menuju tempat kembali tersebut. Rasulullah saw. juga bersabda, yang artinya ”Kalian semua tidak akan masuk surga kecuali setelah beriman. Dan kalian juga tidak akan beriman kecuali setelah saling mencintai sesama kalian. Maukah kamu kutunjukkan sesuatu yang bisa membuat kalian saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”
Seseorang yang mampu meneladani asma Allah ini niscaya akan memiliki rasa aman dan tenteram, selamat dari hal-hal yang tidak diinginkan.
6. Al-Mukmin (Maha memberi rasa aman)
Al-Mukmin artinya dzat yang memberi rasa aman. Allah swt. adalah Dzat yang menjadi tempat pelarian dan perlindungan orang-orang yang merasa ketakutan sehingga kemudian mereka mendapat keamana. Karena sesungguhnya keamanan itu hanya berasal dari Allah swt.
(Al-Hasyr 59: 23)
•
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.
Rasulullah Saw bersabda, ”Seorang mukmin adalah orang yang dirasakan tidak membahayakan orang lain dalam nyawa dan harta mereka.”
Dari namanya, seorang mukmin seharusnya merasakan sebuah keamanan dalam nyawa dan harta mereka, bisa memegang amanah, jujur, dan sama sekali tidak bohong. Nama ini sangat baik untuk dijadikan sebagai dzikir orang yang sedang merasa ketakutan, karena dengan menyebutkannya sepenuh hati Allah stw akan memberinya rasa aman dari segala marabahaya.
7. Al-Muhaimin (Maha Memelihara)
Al-Muhaimin artinya Allah swt, mengawasi dan menyaksikan seluruh makhluk-Nya berkuasa atas diri mereka dengan penuh perhatian dan kekuasaan, memberikan mereka rizki dan kehidupan. Dengan nama ini, maka Allah swt mengetahui seluruh perbuatan kita, baik yang kita tampakkan ataupun kita sembunyikan, di siang hari atau di malam hari. Tidak ada sesuatu apapun yang di langit dan di bumi yang tersembunyi dari penglihatan-Nya. Bahkan gerakan mata yang cepat dan lintasan niat dalam hati, dapat diketahui-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Hasyr 59: 23 di atas.
Kekuasaan dan keagungan Allah swt, sangat sempurna. Dengan kesempurnaan itu, maka Allah swt. mendengar segala suara yang disamarkan dan dibisikkan, mendengar rasa syukur dan keluh kesah hingga akhirnya menolak bahaya dan musibah. Allahlah yang melimpahkan kepada makhluk-Nya nikmat-nikmat yang amat banyak.
Penghayatan kita terhadap nama ini akan membuat kita merasa malu kepada Allah swt, dengan sebenar-benarnya. Kita merasa selalu diawasi Allah swt, di setiap tempat dan waktu. Maka dengan itu, kita tidak akan berbuat maksiat. Syiar kita setiap saat adalah ” Allah swt, melihat dan mengawasiku, bagaimana mungkin aku mendurhakai- Nya?”
8. Al-’Aziiz (Maha Perkasa)
Al-Aziz sebagai nama Allah swt berarti Allah swt. adalah Dzat yang maha perkasa yang tidak bisa dikalahkan oleh sesuatupun, yang Maha Kuat dan mengalahkan segala sesuatu, Dzat yang tidak ada bandingan-Nya. Dalam bahasa arab, Al-Aziz berasal dari Al-Izzu yang berarti kuat, keras, menang, tinggi, dan tahan. Allah swt berfirman, QS. Ali ’Imran 3: 62.
•
”Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” .
Orang yang selalu menghayati nama Allah swt Al-Aziz, dan selalu mendzikirkan dalam setiap kesempatan, niscaya Allah swt, akan memberinya kekuatan, kekuasaan, dan akan menjadi sangat berwibawa dimata manusia. Orang yang mengetahui bahwa hanya Allah swt, yang bersifat Al-Aziz, maka dia tidak akan mengorbankan kehormatan diri mereka dengan meminta dukungan manusia. Dia akan merasa cukup memohon kemuliaan kepada Allah swt. Hal itu seperti disebutkan dalam sebuah hadits qudsi, ”Dan ketahuilah bahwa kemuliaan orang mukmin terletak pada kebiasaannya melakukan shalat malam, sedangkan kewibawaannya ada pada sikap cukup dan tidak membutuhkan kepada orang lain.”
Pintu utama menuju kehinaan adalah rasa ingin memiliki sesuatu yang ada ditangan orang lain, sedangkan pintu utama kewibawaannya adalah merasa diri cukup dan tidak membutuhkan orang lain. Kareana itu Allah berfirman, ”jika engkau membutuhkan pertolongan, mohonlah pertolongan kepada-Ku”.
9. Al-Jabbar (Maha Kuasa)
Al-Jabbar berarti berkuasa untuk memaksakan keinginan-Nya kepada hamba-Nya, berkuasa untuk memerintah dan melarang, sehingga hamba-hamba-Nya hanya bisa berkata sami’na wa atha’na saja. Al-Jabbar juga berarti yang kuat dan tahan, sehingga tidak ada yang bisa berbuat buruk dan membahayakan-Nya. Allah swt berfirman (QS. Al-Hasyr 59: 23).
Nama Al-Jabbar mempunyai tiga makna, yaitu kuasa kekuatan, kuasa kasih sayang dan kuasa ketinggian. Kuasa kekuatan, maksutnya adalah Allah swt. Maha Kuasa atas segala penguasa. Allah swt mengalahkan mereka semua dengan kekuasaan dan kekuatan Nya. Kuasa kasih sayang, maksudnya adalah Allah swt. menyayangi orang lemah, memperbaiki keadaannya dengan cara memberi mereka kekayaan dan kekuatan.
Sedang kuasa ketinggian, maksudnya Allah swt. adalah Maha Tinggi diatas seluruh ciptaan-Nya, tidak ada makhluk yang mencapai-Nya. Karena itulah, Rasululllah saw, selalu berdoa ”Maha suci Allah swt Yang memiliki kekuasaan, kerajaan keangkuhan dan keagungan.” Dari memahami makna-makna diatas, dapat diambil pelajaran, bahwa :
a. Sudah selayaknya seorang mukmin meminta pertolongan hanya kepada Allah swt, baik dalam menguatkan yang lemah, ataupun dalam mengalahkan seorang yang zhalim.
b. Seorang mukmin hendaknya selalu menyerahkan segala urusan kepada Allah swt.
Karena kehendak- Nya pasti akan terlaksana dalam hal apapun dan kepada siapapun.
10. Al-Mutakabbir (Maha Besar)
Al-Mutakabbir artinya Allah swt. adalah dzat yang memiliki kebesaran. Hal tersebut tidak dimiliki oleh yang lain, sehingga Allahpun di atas segalannya. Dengan nama ini, maka kebesaran hanya milik-Nya. Seluruh ciptaan-Nya tunduk patuh terhadap kekuasaan dan keagungan-Nya. Allah swt berfirman (QS. Al-Hasyr 59: 23).
Dalam hadits qudsi disebutkan, ”Sesungguhnya Allah swt, berfirman,’ Kesombongan adalah pakaian atas-Ku dan kebesaran adalah pakaian bawah-Ku. Barang siapa mengambil salah satu dari dua hal ini, maka akan Aku lemparkan kedalam neraka.” Karena itu kesombongan Allah swt adalah tidak terbatas, dan kebesaran-Nya juga tidak ada batasnya.
Allah swt Maha Esa dalam kebesaran dan memiliki keaguangan dan kekuasaan. QS. Al-Jatsiyah 45: 36-37
(36) Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. (37). Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan bumi, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dalam Al-qur’an dan As-Sunnah, Allah swt memberitahukan bahwa Allah swt. sangat membenci orang yang sombong, dan mengancam mereka dengan neraka jahanam.”. Dengan mempelajari nama Al-Mutakabbir’, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil :
a. Kita hendaknya bersikap tawadhu’ terhadap orang lain, walaupun kedudukan kita tinggi, dan perkataan kita biasa ditaati.
b. Kita hendaknya selalu membersihkan hati kita dari sifat takabbur. Allah swt. Sangat membenci orang yang bersifat sombong dan takabur.
11. Al-Khaliq (Maha Pencipta )
Al-Khaliq berasal dari kata’ khalaqa’ yang berarti membuat sesuatu dengan bentuk baru yang belum ada sebelumnya. Seluruh makhluk Allah swt selalu diciptakan-Nya tanpa melihat contoh sebelumnya, tidak ada persamaan dengan yang lain. Allah swt lah yang menciptakan segala sesuatu dengan ukuran yang tepat, dengan rapi, kuat dan teliti. Allah swt berfirman ( QS. Al- Hasyr: 24 )
„Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“..
Setelah menghayati nama Al-Khaliq, maka setiap kali melihat suatu hasil karya baru, maka kita akan meyakini bahwa Allah swt-lah yang menciptakannya. Karena Allah swt lah yang menciptakan manusia, dan mengilhaminya untuk karya tersebut.
12. Al-Baari’ (maha pembuat )
Albari’ artinya dzat yang maha pembuat. Allah swt yang membuat sesuatu dari ketiadaan. Allah swt adalah Al-Bari’, maksudnya adalah Allah swt yang menciptakan dan membentuk sesuatu sesuai dengan ukuran yang diinginka–Nya. Sebagaimana firman Allah swt (QS. Al-Hasyr: 24 )
”Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Dengan menghayati nama Al-Baari’, Kita akan selalu teringat dengan asal kita, bahwa kita berasal dari tanah. Kita juga akan teringat dengan nasib kita setelah mati, bahwa akan kembali menjadi tanah lagi. Selain itu, kita akan merasakan keagungan Allah swt. Yang mampu menciptakan manusia, makhluk yang sempurna, dari sesuatu yang hina, yaitu tanah. Semua perasaan itu akan membuat manusia selalu bersifat tawadhu’ dan terjauh dari sikap sombong.
13. Al-Mushawwir ( Maha membentuk rupa )
Al-Mushawwir artinya yang menciptakan segala sesuatu dan membeda- bedakan mereka dengan bentuk masing-masing sesuai dengan keinginan penciptanya. Allah swt berfirman; (Al- Hasyr: 24 )
“Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Dengan menghayati nama Al-Mushawwir, kita akan selalu terdorong untuk bersyukur kepada Allah swt yang telah memberi kita rupa yang sangat indah dan serasi. Nama ini juga mendorong kita untuk selalu membuat perencanaan untuk semua yang akan kita lakukan, sehingga hasilnya akan optimal. Hal ini meneladani apa yang menjadi sifat Allah swt, “Sesungguhnya Allah swt. Itu indah dan mencintai keindahan.”
14. Al-Ghaffar (Maha Pengampun)
Al-Ghaffar artinya dzat yang maha pengampun. Allah swt. sangat senang dalam menutupi dosa hamba-Nya, dan mengabaikan kesalahan-kesalahan hamba-Nya. Al-Ghaffar berasal dari al-ghafru, yang berarti menutupi. Nama Allah swt. Al-Ghaffar menunjukkan bahwa Allah swt menutupi dosa-dosa hamba-Nya, tidak menampakkannya. Allah swt. Berfirman dalam QS. Az- Zumar 39: 5
• •
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah swt berfirman, ”Pada hari kiamat, seorang mukmin akan didekatkan kepada Allah swt. kemudian dia diberitahu akan dosa-dosanya.Allah swt bertanya kepadanya,” apakah engkau tau dosa ini ? ”Sang mukmin menjawab, ” Benar, wahai Tuhanku. Aku mengetahuinya.” Kemudian Allah swt berkata kepadanya, ” ssesungguhnya aku telah menutupinya di dunia, karena itu aku pun akan menutupinya sekarang ini.” Maka setelah itu, sang mukmin memperoleh buku kebaikan .”
Dalam hadits qudsi yang lain, juga disebutkan firman Allah swt. ” Wahai hamba- hambaku, kalian berbuat kesalahan siang malam, tapi akan mengampuni semua dosa kalian.Maka mintalah ampunan kepada- Ku,niscaya akan aku ampuni,”
Dapat disimpulkan bahwa pelajaran yang bisa diambil dari menghayati nama Allah swt. Al-Ghaaffar ini adalah agar kita banyak beristighfar, memohon ampun kepada Allah swt. Dzat yang maha pemberi ampun.
15. Al-Qahhar ( Maha Memaksa )
Al-Qahhar artinya Allah swt. memiliki kekuasaan penuh dalam mengungguli dan memaksa orang–orang yang kuat dan bearkuasa. Sesuai dengan nama ini berarti segala hal yang diinginkan Allah swt pada diri mahkluk-Nya pasti akan terjadi. Baik mereka mau atau tidak, senang atau benci. Karena segala sesuatu yang ada, baik makhluk hidup atau mati, semuanya berada dibawah kendali Allah swt, bisa saja berbentuk membuat diri lemah, sakit, bahkan mati. Allah swt berfirman; ( Az-Zumar: 4 )
“Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang Telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. dialah Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”.
Dengan mamahami dan menghayati nama Al-Qahhar, kita terdorong untuk selalu memaksa dan menguasai jiwa kita,sehingga jiwa kita tidak jahat dan mealampoi batas-batas agama. Hal ini merupakan awal perjalanan menuju keselamatan kita dari marabahaya.
16. Al-Wahhab ( Maha Pemberi Karunia )
Al-Wahhab artinya dzat yang maha pemberi karunia. Allah swt memberi hamba-Nya karunia yang banyak sekali. Dia memberi tanpa diminta, dan tanpa meminta balasannya. QS. Shad 38: 35.
• •
”Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah Aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi".
Allahlah yang telah mengkaruniakan kita kecukupan, kesehatan, kekuatan dan kehidupan. Dia pula yang mengkaruniakan kita kebahagiaan, keberhasilan dan jalan mendapatkan rizki, dan keturunan baik laki-laki maupun perempuan.
17. Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki)
Ar-Razzaq artinya Allah swt menciptakan rizki dan menyampaikannya kepada sekalian makhluk-Nya dengan berbagai macam jalannya. Allah swt berfirman; QS. Adz-Dzariyat: 58 )
• •
“Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”.
Setiap makhluk yang ada diatas bumi telah Allah swt tentukan rizkinya .Rizki itu akan datang kepadanya, kapan dan dengan cara yang dikehendaki Allah swt. Rizki itu ada dua macam, Pertama adalah rezeki untuk anggota tubuh, seperti makanan, minuman, dan pakaian. Dua adalah rizki untuk ruhani seperti ilmu pengetahuan dan ilham dari Allah swt .
Rasulullah bersabda, ‘Malaikat Jibril As pernah menyampaikan kepadaku bahwa seorang manusia tidak akan mati sampai dia benar-benar mendapatkan semua rizkinya. Maka bertakwalah kamu kepada Allah swt, dan perbaikilah caramu dalam mencari rizki. Ambillah sesuatu yang halal dan tinggalkanlah sesuatu yang haram. Jangan sampai karena rizki lambat datang, akhirnya engkau mencarinya dengan sebuah kemaksiatan, karena sesungguhnya semua yang ada di sisi Allah swt. Hanya bisa didapatkan dengan sebuah ketaatan.”
18. Al-Fattah (Maha Pembuka)
Al-Fattah, dzat yang maha pembuka rahmat, berasal dari kata al-fathu, yang berarti menghakimi karena Allah swt adalah yang menghakimi di antara makhluk-makhluk-Nya. Dialah yang memisahkan antara yang benar dan salah. Halal dan haram. Al-Fattah juga berarti yang membuka pintu rizki dan rahmat untuk hamba-hamba-Nya. Karena Allah swt juga mempermudah jalan–jalan yang sulit, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Allah swt berfirman. ( QS. Saba’ : 26 )
“Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, Kemudian dia memberi Keputusan antara kita dengan benar. dan Dia-lah Maha pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui".
Mengingat bahwa pintu kebaikan kadang dibuka oleh manusia pilihan Allah swt. Maka untuk membedakan mereka dengan Allah swt. banyak ayat yang menyebutkan bahwa Allah swt adalah pembuka Rahmat yang paling baik.
19. Al-‘Alim (Maha Mengetahui)
Al-‘alim, berarti dzat yang maha mengetahui. Allah swt mengetahui segala sesuatu, sebelum dan sesudah sesuatu itu ada. Tidak ada sesuatupun di bumi dan di langit yang tersembunyi dari penglihatan Allah swt. Segala sesuatu, baik yang dekat maupun yang jauh, dapat dilihat-Nya. Allah swt berfirman. QS. Al-Hijr: 86.
•
“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”.
Rasulullah bersabda, “Setiap hamba Allah swt, yang mengucapkan setiap pagi dan petang (dengan nama Allah, Yang karena nama- Nya, tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya.baik dibumi maupun dilangit. Dan Allah maha mendengar dan maha mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak ada sesuatupun yang dapat membahayakannya.”
Kadang–kadang ada juga hamba-Nya yang mempunyai sifat mengetahui. Orang seperti itu dinamakan ’alim dan dalam bentuk jamak disebut ulama. Namun sungguh jauh perbedaan antara ilmu Allah swt dan ilmu hamba-Nya. Ilmu seorang makhluk sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah swt melingkupi segala sesuatu dan tidak ada batasnya.
Letak perbedaan yang lain adalah karena ilmu manusia sangat tergantung dengan sarana, prasarana, penelitian dan lain sebagainya. Semua itu sangat memungkinkan terjadinya perubahan pada ilmu tersebut. Sedangkan ilmu Allah swt. bersifat tetap dan tidak akan berubah.Allah swt berfirman,” Dan tidaklah Tuhanmu lupa.
Kemudian semua ilmu yang kita miliki tidak lain adalah pemberian dari Allah swt. Agar manusia yang berilmu tidak merasa bangga dengan ilmunya, sehingga membuatnya sombong, Allah swt, mengingatkan mereka bahwa, ”Dan diatas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui”
20. Al-Qaabidh (maha Menyempitkan)
Dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menerangkan maksud kedua nama ini, misalnya: ( Al-Baqarah ; 245 )
• •
”Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”.
Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah swt. itu adalah pencipta , yang menyempitkan, melapangkan, memberi rizeki, dan memberi kemuliaan. Aku sangat berharap ketika bertemu Allah swt tidak ada yang menuntutku hak orang lainyang tidak kutunaikan, baik dalam masalah nyawa ataupun harta.”
Al-Qabidh adalah yang menahan dan tidak memberi rezeki, dan memberi kemuliaan. Setiap mukmin sangat berharap ketika bertemu Allah swt tidak ada yang menuntutku hak orang lain yang tidak kutunaikan, baik dalam masalah nyawa ataupun harta.” Al-Qabidh adalah yang menahan dan tidak memberi rezeki atau sejenisnya kepada hamba-Nya demi kemashlahatan hamba itu sendiri. Bisa juga dimaksudkan dengan yang mencabut nyawa ketika seorang hamba meninggal dunia.
Pemberian rizki kepada seorang hamba dengan jumlah tertentu, baik sedikit ataupun banyak, adalah sebuah rahmat dari Allah swt. seandainya saja Allah swt memberikan rizki sesuai dengan yang diinginkan-Nya. Tentunya hal itu bisa membuatnya menjadi sombong, dzalim, dan berbuat kerusakan diatas bumi. Maka dari itu Allah swt memberikan rizki susuai dengan yang diinginkan-Nya menurut ilmu dan hikmah-Nya.
21. Al-Baasith (maha melapangkan)
Al-Basith adalah dzat yang maha melapangkan. Allah melapangkan rizki hamba-Nya, karena Allah swt memberikan rizki sesuai dengan yang diinginkan-Nya menurut ilmu dan hikmah-Nya, karena Allah swt. bersifat pemurah dan penyayang. Bisa juga dimaksudkan dengan yang membentangkan nyawa dalam tubuh manusia, sehingga tubuh itu bisa mendapatkan kehidupan.
Al-Basthu adalah kebalikan Al-Qabdhu. Kalimat ’basatha asy-syaia’ artinya adalah membentang sesuatu. Hal terbesar yang dibentangkan dan diluaska Allah swt adalah rasa kasih dan cinta kepada kebaikan yang diletakkan dalam hati manusia. Demikianlah, karena merupakan dua hal yang berlawanan, maka keduanya hendaknya disebutkan secara beriringan. Sehingga kita dapat merasakan dan meyakini bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan, baik kelapangan maupun kesempitan, adalah berdasarkan ilmu dan hikmah Allah swt.
Allah Ta’ala berfirman (QS.Al Baqarah; 245 )
• •
”Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
22. Ar-Raafi’ (Maha meninggikan)
Allah maha meninggikan. Firman Allah QS. Al-Waqi’ah 56: 1-3.
a. Apabila terjadi hari kiamat,
b. Tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.
c. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),
Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya Allah swt tidak tidur, dan tidak selayaknya Allah swt, tidur. Dan sesungguhnya Allah swt. Akan meninggikan dan menurunkan timbangan hamba-Nya. Maksud Al-Khafidh adalah yang menurunkan kesombongan dan kecongkaan para penguasa sehingga kedudukan mereka menjadi rendah dan hina . Bisa juga dimaksudkan dengan merendahkan orang- orang kafir dan musyrik dengan menjatuhkan mereka kedalam neraka Jahanam.
Maksud Ar-Rafi’ adalah yang meninggikan para wali Allah swt. Ar-Rafi’ juga berarti yang meninggikan kedudukan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Di dunia sebelum mereka ditinggikan di akhirat dengan memasukkan mereka ke dalam surga pada derajat yang sangat tinnggi.
Sering kali Al-Khafidh disebutkan bersama dengan Rafi’, sehingga terlihat dengan jelas bahwa Allah swt meninggikan dan merendahkan hamba-hambanya sesuai dengan hikmah-Nya. Tidak ada hamba yang didholimi dengan kekuasaan-Nya.
23. Al-Mu’izzu (yang maha memuliakan)
Al-Mu’izzu berarti Allah dzat yang maha memuliakan. Allah memuliakan siapa saja yang dikehendaki. Kemuliaan di dunia dapat diberikan kepada siapa saja, namun hakikat kemuliaan adalah kemuliaan di akhirat kelak. Hal itu hanya diberikan kepada hamba-hamba Allah yang taat.
Bila Allah telah berkehendak untuk memuliakan hamba-Nya niscaya tidak ada orang yang mampu menghalanginya. Demikian juga sebaliknya. Bila Allah menghendaki kerendahan derajat bagi hambanya, tidak satupun makhluk yang mampu menghalanginya. Allah dzat yang mulia, sekaligus dzat yang maha memuliakan.
Firman Allah swt. QS. Ali ’Imran 3: 26.
•
“Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
24. Al-Mudhillu (maha menghinakan)
Al-Mudhillu berarti Allah dzat yang maha menghinakan. Allahlah yang memuliakan dan menghinakan. orang yang dimuliakan Allah swt. niscaya akan menjadi benar-benar mulia. Dia akan mempunyai kemuliaan, kekuatan dan kemenangan atas hawa nafsunya dan musuh-musuhnya. Orang-orang yang beriman akan dicintai Allah swt dengan mengkaruniakan mereka kemuliaan yang berasal dari kemuliaan Allah swt. Adapun orang-orang kafir, mereka akan dihinakan Allah swt didunia, sehingga ke hidupan mereka diakherat juga akan hina dengan dimasukkan dalam neraka.
Setiap orang yang dimuliakan Allah swt. akan merasakan cukup hanya dengan Allah swt dan tidak merasakan kebutuhan kepada manusia .mereka juga merasa ridho dengan ketentuan Allah swt atas diri mereka. Orang-orang yang dihinakan Allah swt selalu mengikuti hawa nafsu, pembuatan dan pemikiran yang buruk. Mereka juga akan selalu tunduk dan menuruti segala perintah manusia, demi mendapatkan sesuatu dari mereka.
Dua nama ini, Al-Mu’izzu dan Al-Mudzillu juga seringkali disebutkan bersamaan untuk menunjukkan betapa Allah swt memuliakan dan menghinakan manusia berdasarkan hikmah-Nya.
25. Al-’Adlu ( Maha Adil )
Al’Adlu berarti dzat yang maha Adil. Keadilan Allah tak terbatas, dan tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Firman Allah swt, QS. Al- An’am: 115.
“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui”.
Al-’adlu artinya Allah swt hanya melakukan sesuatu yang pantas dan sudah seharusnya dilakukan. Oleh karena itu Allah swt menghukumi dengan kebenaran, tidak semena-mena, sehingga berlaku dzalim kepada hamba-Nya. Sebagian dari kandungan nama Al-’adlu ini yaitu ketika menciptakan, menyempurnakan, dan membentuk manusia dalam bentuk yang paling baik. Kemudian memerintahkannya untuk merenungi penciptaan dirinya dan penciptaan langit dan bumi supaya mengetahui bahwa Allah swt benar-benar telah menciptakan manusia dengan keadilan dan kebenaran.
Rasulullah saw. Bersabda; ”Setiap kali seorang hamba dirundung sebuah masalah dan kesedihan, kemudian dia berdoa, ’Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, cucu hamba-Mu. Ubun-ubunku ada ditangan-Mu. Keputusan-Mu, berlaku padaku. Ketetapan-Mu adil padaku. Aku memohon dengan semua Asma-Mu, yang engkau bubuhkan kepada Zat-Mu, atau engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu, atau engkau simpan sendiri pada pengetahuan ghoib–Mu, Ya Allah jadikanlah Alqur’an penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pengusir duka dan nestapa, maka Allah swt pasti akan menghilangkan masalah dan kesedihannya itu diganti dengan rasa bahagia.”
Kemudian Rasulullah saw juga mengajarkan kita sebuah doa, ”Ya, Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai sebuah kebenaran, kemudian karuniakan kami kemampuan untuk mengikutinya.Dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai sebuah kebatilan, kemudian karuniakan kami kemampuan untuk meninggalkannya. Ya Allah
Aku berlindung kepada-Mu dari kezhaliman dan kegelapan. Ya Allah berilah aku keadilan dalam kondisi marah dan tidak marah.”
26. Al-Haafidhu (Maha Menjaga)
Al-Haafidhu berarti Allah dzat yang maha menjaga. Allah menjaga seluruh ciptaan-Nya. Karena penjagaan Allah itulah maka seluruh alam raya berjalan sesuai dengan aturannya. Tidak ada satu makhluk sekecil apapun yang luput dari penjagaan-Nya. Bahkan jatuhnya sehelai daunpun dalam pengawasan dan penjagaan Allah.
Allah juga dzat yang maha menjaga keselamatan manusia. Karena penjagaan Allahlah manusia bisa beraktivitas dengan lancar. Segala yang terjadi dalam kehidupan manusia berada dalam penjagaan Allah. Kemudzaratan yang terjadi tentu akibat dari ulah dan kedhaliman manusia.
27. Al-Waduud (Maha Pencinta )
Al-Wadud artinya Allah swt mencintai hamba-hamba-Nya yang berbuat ketaatan, dengan cara memberi mereka nikmat dan kasih sayang. Allah swt berfirman, ( Hud: 90 )
•
“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu Kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih”.
Dalam sebuah hadits Qudsi, disebutkan bahwa Allah swt berfirman, “Barang siapa memusuhi waliku, maka aku akan mmemeranginya. Yang paling Aku senangi adalah ketika ia mendekatkan diri kepada–Ku dengan melakukan ibadah-ibadah sunah, hingga akupun mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka akulah pendengaran yang digunakannya mendengar, penglihatannya yang digunakan untuk melihat, tangannya yang digunakan memukul, dan kakinya yang digunakan untuk melangkah. Jika dia meminta pasti Ku beri. Jika dia mohon nta perlindungan, pasti Kulindungi.”
Al-Wadud berasal dari kata al-wud, yang berarti rasa cinta Allah swt. kepada hamba-Nya adalah dengan memberi mereka nikmat, kebaikan, keridhaan, pujian, maaf, dan ampunan bagi dosa-dosa mereka. Deangan menghayati nama Al-wadud, kita terdorong untuk juga mencintai Allah swt. dengan banyak hal. Karena jalan menuju mencintai Allah swt itu banyak sekali dan bermacam-macam. Yang pertama adalah melakukan ibadah-ibadah wajib, disusul dengan dengan ibadah-ibadah sunah.
Kemudian kita juga hendaknya melakukan segala sesuatu dalam pergaulan kita dengan orang lain atas dasar cinta. Karena cinta adalah kunci untuk membuka hati hati mereka.
28. AL-Qayyum ( Maha Mandiri )
Al-Qayyum artinya Allah dzat yang maha mandiri. Allah swt sangat besar pengurusan-Nya terhadap makhluk-Nya. Atau bisa juga yang memberikan segala sesuatu untuk kelangsungan seluruh ciptaan-Nya. Allah berfirman, (Al-Baqarah: 255 ).
”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Rasulullah saw, juga mengajarkan kita untuk selalu berdoa, “Wahai Allah Yang Maha Hidup dan Mandiri yang menciptakan langit dan bumi, Yang Mulia dan Pemurah Tiada Tuhan Selain Engkau. Denga rahmat- Mu aku memohon pertolongan. Ya Allah, perbaikilah kondisi diriku, jangan engkau berikan urusannya kepada diriku sekalipun hanya sekejap, karena jika demikian niscaya aku akan tersesat dan celaka.”
Imam Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, “aku turut dalam perang Badar. Saat itu aku menyempatkan diri mendatangi Rasulullah sawa, untuk melihat gerangan apa gerangan yang dilakukannya. Saat kudatang kulihat beliau sedang bersujud dan berdoa, Demikian doanya, tidak ditambah apapun. Beberapa lama kemudian aku mendatangi beliau lagi, dan beliau masih dalam kondisi yang sama, berdoa. Demikian seterusnya, aku bolak-balik menemui beliau, dan beliau terus dalam keadaan berdoa hingga Allah swt memberi kami sebuah kemenangan.
29. Al-Waliyyu ( Maha Memerintah )
AL-Waliyyu berarti Allah dzat yang maha memerintah atau maha menguasai. Allah swt. memiliki segala sesuatu dan berkuasa atas mereka, sehingga dapat memperlakukan mereka sesuai kehendak dan hikmah-Nya, Apa yang diperintahkan kepada mereka harus dilaksanakan, dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka harus digunakan. Allah berfirman QS. Ar-Ra’du: 11
•
”Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
30. Al-Barru ( Maha memberi kebaikan )
Al-Barru artinya dzat yang maha memberi kebaikan. Allah selalu sayang dan memberikan kabaikan kepada seluruh ciptaan-Nya. Sehingga tidak ada satu ciptaanpun yang bisa terlepas dari kebaikan Allah swt barang satu kejap. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, “ Wahai hamba –hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan atas diri-Ku berlaku zhalim, dan juga kuharamkan untuk terjadi di antara kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling berlaku zhalim. Wahai hamba-hambaku, kalian semua itu sebenarnya lapar, kecuali yang aku beri makan maka mintalah makan paadaku. Niscaya akan aku beri. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua melakukan perbuatan–perbuatan dosa siang dan malam, sedangkan aku mengampuni semua dosa itu, maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.”
31. Ar-Ra’uf (maha Mengasihi)
Ar-Ra’uf, Artinya; Allah swt sangat mengasihi hamba-hamba-Nya didunia, rasa kasih Allah swt ini meliputi semua ciptaan-Nya baik yang beriman maupun yang ingkar, Namun di akherat kelak rasa kasih itu hanya dikhususkan unatuk orang-orang yang beriman saja. QS. Al-Hasyr; 10.
•
”Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
Allah juga berfirman dalam QS. Al-Hadid: 9
•
”Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Quran) supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.”
Suatu hari Rasulullah saw sedang dalam paerjalanan, beliau melewati seorang wanita yang sedang membuat roti sambil membawa anaknya, wanita itu berkata ‘Wahai Rasulullah, aku mendengar bahwa engkau mengatakan, Sesungguhnya Allah swt, mengasihi hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang wanita kepada anaknya, Benarkah itu?” Rasulullah saw menjawab,”Benar”. “Namun seorang ibu tidak mungkin memasukkan anaknya ke dalam tungku seperti ini “Sanggah wanita tersebut sambil menunjuk ke arah tungku api dihadapannya. Maka Rasulullah saw pun menangis, kemudian berkata, ”Demikian juga Allah Dia hanya akan menyiksa orang-orang yang tidak mau mengucapkan syahadat (Tiada Tuhan selai Allah).”
32. Al-Muqsith (Maha Adil )
Al-Muqsith artinya Allah swt berlaku adil dalam menghakimi. Allah swt akan menolong seorang yang terzhalimi agar bisa mendapatkan hak yang dirampas orang zhalim. Karena kezhaliman adalah sesuatu yang telah diharamkan atas Dzat- Nya, juga bagi semua ciptaan- Nya.
Allah berfirman, “ Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun ” ( Al-Hujurat: 9 )
•
”Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia Telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.
Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah swt berfirman, ”Wahai hamba-hambaku sesungguhnya Aku telah mengharamkan atas diri-Ku berlaku zhalim, dan aku juga kuharamkan untuk terjadi diantara kalian.”
33. An-Nafi’ (Maha Memberi manfaat)
Sesungguhnya Allahlah yang memberikan kekayaan dan juga kemiskinan; memberi nikmat sehat dan menimpakan rasa sakit, memuliakan dan meanghinakan, mendekatkan orang shaleh dan mengusir orang yang durhaka. Semua itu adalah keputusan dan perlakuan yang hanya datang dari Allah, karena tidak ada yang bisa mendatangkan bahaya dan manfaat kecuali Allah swt. Allah swt berfirman dalam QS Al-An’am ;42)
”Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, Kemudian kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”.
Rasulullah bersabda,’ Jagalah Allah swt, maka Dia akan menjagamu. Jagalah Allah swt maka engkau akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Jika engkau memohon memohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong meminta tolonglah kamu kepada Allah. Karena ketahuilah bahwasannya jika seluruh umat manusia bersatu padu untuk mendatangkan sebuah manfaat untukmu, maka mereka tidak akan pernah bisa mendatangkannya kecuali apa yang telah ditentukan Allah. Dan jika seluruh umat manusia bersatu-padu untuk mendatangkan sebuah bahaya kepadamu, maka mereka tidak akan pernah bisa mendatangkannya kecuali apa yang telah ditentukan Allah.”
34. Al-Waaritsu (Maha mewarisi
Al-Waaritsu berati Allah dzat yang maha mewarisi. Bumi seisinya ini diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. Bila semua manusia telah dipanggil oleh Allah maka siapa yang akan mewarisi alam ray aini ? Allahlah dzat yang maha mewarisi. Semua berasal dari Allah dan semua akan kembali kepadanya.
Harta yang dimiliki oleh manusia hanyalah pengakuan sementara. Bila manusia telah sampai pada ajal maka semua harta benda akan ditinggalkan. Allahlah yang akan mewarisi semua yang ditinggalkan oleh manusia pada saatnya nanti. Manusia hanya akan membawa amal sholih yang ia lakukan.
35. Ash-Shabuur ( Maha Sabar )
Ash-shabur artinya Allah swt. tidak terpengaruh dengan banyak terjadinya kemaksiatan sehingga akhirnya bersegera menurunkan hukuman-Nya. Allah swt selalu menyimpan hukuman-Nya dan tidak menurunkannya kepada musuh-musuh–Nya, dengan harapan suatu saat mereka akan bertaubat. Allah swt berfirman dalam QS An-Nahl: 127 ) “
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”.
Rasulullah saw bersabda, ”Beribadahlah kepada Allah dengan cara selalu merasa ridha. Jika engkau tidak mampu , maka lakukanlah dengan cara selalu sabar atas keburukan yang menimpamu.”
BAB VI
AKHLAK TERPUJI
A. Husnudhon
1. Pengertian
Husnudhon berasal dari bahasa arab husnun (baik) dan Adz-dzannu (prasangka). Jadi husnudhon berarti prasangka yang baik, atau berbaik sangka. Secara istilah berarti berbaik sangka terhadap segala ketentuan Allah yang diberikan kepada manusia, dan berbaik sangka kepada sesama manusia. Rasulullah pernah bersabda, “Aku adalah sesuai dengan prasangka hambaku, maka berprasangkalah ia kepadaku sesukanya”.
Kunci kebahagiaan hidup adalah berbaik sangka. Apabila seseorang mampu berbaik sangka atau berpikiran positif terhadap siapapun dan terhadap ketentuan apapun yang diterima, niscaya kehidupan ini akan terasa indah. Kenikmatan dirasakan sebagai karunia Allah yang harus disyukuri dan tidak menjadikan lupa diri. Penderitaan akan diterima sebagai satu cobaan untuk menambah kesabaran, meningkatkan derajad dan menggugurkan dosa tanpa diiringi keluhan dan umpatan. Semua pengalaman hidup yang diterima dan dialami dinikmati sedemikian rupa dan diambil hikmah yang terkandung dibalik peristiwa yang ada. Dengan husnudhon hati menjadi lapang, pikiran terasa ringan, hidup terasa lebih indah.
Lawan dari husnudhon adalah su’udhon (berburuk sangka) apabila manusia diliputi prasangka yang buruk atau pikiran yang negatif, maka hilanglah kebahagiaan hidup. Dia selalu melawan ketentuan Allah dan memandang Allah tidak adil. Kepada orang lain juga selalu berprasangka negatif. Memandang segala sesuatu dari sisi kekuranganya, melupakan kelebihan dan nikmat yang ada. Sungguh orang yang demikian itu hidupnya tidak akan tenang yang ada hanya mengeluh dan mengeluh.
2. Pembagian Husnudhon.
Ada beberapa kriteria perbuatan atau ciri sesuatu masuk dalam kategori husnudzan, antara lain :
a. Berpikir positif terhadap ketentuan Allah.
Apapun ketetapan dan takdir yang diberikan oleh Allah kepada kita hendaknya diterima dengan lapang dada, penuh rasa syukur. Karunia Allah dapat berupa nikmat maupun cobaan, dengan keyakinan bahwa pasti ada hikmah dan pelajaran yang berharga dibalik semua peristiwa yang ada.
b. Mensyukuri nikmat Allah
Sekecil apapun nikmat Allah yang diberikan kepada kita, diterima dengan rasa syukur sambil melihat ke bawah, masih banyak orang yang beruntung seperti kita dan masih banyak orang yang lebih menderita daripada kita. Dengan melihat ke bawah kita akan mampu mensyukuri apa yang ada.
c. Berpikir positif terhadap orang lain
Apapun yang dilakukan orang lain kita berusaha untuk melihatnya dari sudut positif. Berpikir positif terhadap perbuatan yang baik lebih mudah,namun berpikir positif terhadap perbuatan negatif, ini yang lebih sulit, manun tetap bisa diupayakan , yaitu melihat upaya yang dilakukan orang dengan pikiran yang positif, misalnya ada teman yang suka berbohong maka kita bisa mengatakan bahwa dia sedang lupa diri, semoga Allah memberikan kesadaran dan petunjuk sehingga dia dapat berprilaku lebih baik .Dan hal itu bisa menjadi lahan amal bila bisa ikut mengingatkan dan meluruskan.
d. Tidak mengeluh
Orang yang diliputi pikiran positif tidak akan mengeluh terhadap beban apapun yang diterima .Semua dihadapi dengan hati lapang dan pikiran yang jernih.Segala sesuatu pasti ada hikmah dan pelajaran yang terkandung didalamnya. Dengan mengeluh maka energi akan berkurang, bahkan bisa berkurang, bahkan bisa terkuras karena semangat hidaup yang runtuh.
e. Tidak berputus asa
Perjalanan hidup tidak selamanya menyenangkan, kadang diwarnai dengan cobaandan rintangan. Namun keyakinan bahwa Allah tidak akan membebani sesuatu diluar kemampuan hamba-Nya, menjadikan kita optimis untuk terus mengarungi masa depan. Sebagaimana firman-Nya, yang artinya “Allah tidak akan membebani seseorang kecuali ia sanggup mengerjakannya”
3. Nilai positif dari husnudhon
Sebagai sikap dan tindakan yang diajarkan oleh Rasulullah tentu mengandung nilai positif dan manfaat yang besar. Nilai positif husnudhon antara lain;
a. Hati menjadi tenang, karena terhindar dari penyakit hati.
b. Hidup menjadi ringan, karena tidak ada pikiran negatif yang membebani.
c. Mampu berpikir jernih, karena kebersiha pikiran dan hati yang tidak diwarnai oleh pikiran negatif.
d. Timbul semangat hidup, sebagai buah dari pikiran yang jernih.
e. Tawakkal, sebagai buah dari pikiran positif terhadap bagaimanapun ketentuan Allah yang diterima.
4. Membiasakan perilaku husnudhon.
Agar hhusnudhon ini menjadi bagian dari sikap hidup kita maka husnudhon harus dibiasaakan dalam kehidupan sehari hari. Upaya yang dapat dilakukan agar kita mampu berhusnudhon dalam setiap langkah hidup kita, antara lain;
a. Menanamkan tekat dalam diri untuk selalu berpikir positif dan menjauhkan diri dari pikiran- pikiran negatif ( buruk sangka )
b. Dalam hal kenikmatan, selalu melihat kebawah, sehingga muncul rasa syukur atas apa yang ada saat ini, Dalam hal ketaatan selalu melihat ke atas, sehingga memacu kita untuk terus melakukan peningkatan kwalitas diri.
c. Selalu mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita , sekecil apapun hikmah tersebut, sering manusia lupa diri akan nikmat Allah. Seperti kesehatan dan waktu luang, sebagai sabda Nabi yang artinya “Kenikmatan yang sering dilupakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang”
Manusia menyadari akan nikmatnya badan yang sehat bila bila telah mengalami sakit. Demikian juga seseorang baru menyadari nikmatnya waktu luang bila telah memiliki kesibukan yang luar biasa. Oleh karena itu manusia hendaknya menjaga kesehatan dan waktu luang yang dimiliki dengan memanfaatkannya sebaik mungkin agar tidak terjadi penyesalan berkepanjangan.
B. Taubat
1. Pengertian.
Taubat berasal dari kata taaba yatuubu
artinya kembali. Secara istilah Taubat berarti orang yang kembali dari kesalahan atau kemaksiatan, berarti dia melakukan perbuatan yang melanggar aturan syariat Islam. Maka hendaknya segera kembali ke jalan yang benar, dalam bentuk meninggalkan perbuatan yang terlarang diganti dengan perbuatan yang sesuai dengan syariat Islam. Inilah yang dinamakan taubat. Sebagaimana firman Allah Q.S At-Tahrim 66: 8.
• •
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, "
Sebagian orang merencanakan untuk bertaubat namun menunda nanti kalau sudah tua, atau setelah puas menikmati kesenangan dunia. Sungguh hal itu sangat spekulatif dan beresiko sangat fatal, manusia berharap memiliki umur panjang namun siapa yang dapat menjamin. malaikat izroil dapat menghampiri manusia kapan saja, dimana saja, dengan cara apa saja, pada usia berapa saja. Sehingga apabila manusia telah dipanggil oleh Allah melalui malaikat izroil tanpa dia sempat bertaubat, sungguh kerugian yang sangat besar dunia akhirat, dan tak dapat tergantikan. Penyesalan yang tiada artinya, kerugian yang tiada tara. Kehidupan dunia hanya beberap atahun saja, kehidupan akhirat abadi selamanya, sesungguhnya Allah maha menerima taubat hamba-Nya. Sebagaimana sabda Nabi :
“Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seorang hamba-Nya selama nyawanya belum sampai ditenggorokan” ( HR. Tirmidzi ).
“Setiap manusia ( dapat berbuat ) salah. Dan sebaik –baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat ( HR. Tirmidzi ).
2. Ciri-ciri taubat
Taubat yang sempurna harus memenuhi syarat-syarat berkait, yaitu;
a. Menyadari kesalahan.
Langkah pertama untuk bertaubat adalah sadar akan kesalahan yang telah dilakukan. Setelah itu baru memasuki tahap taubat berikutnya. Bagaimana seseorang bertaubat kalau kesalahannya sendiri saja tidak mau mengakui. Tidak merasa bahwa dirinya melakukan kesalahan, sehingga seseorang yang telah menyadari bahwa dirinya melakukan kesalahan berarti telah memasuki pintu pertama taubat. Dalam hal ini sesama muslim harus saling mengingatkan. Bila ada teman atau saudara yang melakukan kesalahan. Sebab sungguh banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah berbuat salah. Maka kewajiban sesama muslim untuk mengingatkan. QA. Al-‘Asyr 1-3
••
1. Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.
b. Menyesali kesalahan
Orang yang menyadari bahwa dirinya berbuat salah belum tentu menyesal akan apa yang telah dilakukan, betapa banyak orang yang tertawa bahkan bangga atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Oleh karena itu orang yang telah menyadari akan kesalahan yang telah dilakukan, sebaiknya diikuti dengan penyesalan, yakni perasaan bersalah terhadap diri sendiri, orang lain bahkan perasaan bersalah kepada Allah SWT. Karena sesungguhnya menyesal itu sendiri adalah bagian dari taubat. Sebagaimana sabda Nabi ...
“ Menyesal itu adalah taubat” (HR Abu dawud dan Halim).
c. Memohon ampun kepada Allah SWT.
Allah maha pengampun. Orang yang telah menyadari kesalahannya, menyesali apa yang telah dilakukan mohn ampun kepada Allah dan bertekatt untuk memperbaiki diri tentu Allah akan mengabulkan dan mengampuni kesalahannya. Rasulullah yang telah dijamin masuk surga dan terjaga dari segala kesalahan (maksum) masih tetap banyak mohon ampun kepada Allah. Apalagi manusia yang banyak melakukan dosa dan kesalahan. Sabda Nabi :
“Hai manusia, bertaubat dan minta ampunlah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya saya bertaubat 100 kali dalam sehari”. (HR.Muslim)
d. Berjanji tidak akan mengulangi.
Taubat seorang hamba akan utuh bila diiringi dengan tekat dan janji untuk tidak akan pernah mengulangi lagi. Janji yang keluar dari hati nurani tanpa paksaan dari siapapun. Orang yang berataubat kemudian mengulangi lagi walaupun dosa yang dilakukan adalah dosa kecil namun bila diulang-ulang akan menjadi dosa besar juga. Sebagaimanan hadits Nabi :
“tidak ada dosa besar dengan istighfar, dan tidak ada dosa kecil bila di ulang-ulang. (HR. Thabrani)
e. Menutupi kesalahan dengan amal sholih.
Cara mudah untuk menutupi kesalahan setelah bertaubat adalah melaksanakan amal kebajiakn sebanyak-banyaknya. Seba secar aumum kebaikan akan menghapus keburukan. Sabda Rasulullah
“Bertawakallah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada dan iringilah perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Maka kebaikan itu akan menghapuskannya. Dan bergaullah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi)
3. Cara Taubat
Guna mengetahui lebih jauh tata cara bertaubat maka perlu diketahui pengelompokan dosa yang dilakukan manusia. Cara taubat yang dilakukan sesuai dengan jenis dosanya, yaitu :
a. Dosa berkait dengan hak Allah
b. Dosa berkait dengan hak Allah dan harus ditunaikan haknya.
c. Dosa berkait dengan manusia.
d. Dosa berkait dengan manusia dan harus ditunaikan haknya.
Uraian dari cara melakukan taubat sesuai dengan jenis kesalahannya adalah sebagai berikut :
1. Dosa berkait dengan hak Allah, seperti meninggalkan sholat, zakat, puasa, minumm khamr, melihat film yang mengundang sahwat dan berbagai dosa besar yang lain. Dosa-dosa tersebut berkait dengan hak Allah, sehingga upaya bertaubat dengan cara :
a. Berti dari melakukan dosa tersebut.
b. Menyesali perbuatan yang telah dilakukan
c. Mohon ampun kepada Allah dengan banyak membaca istighfar.
d. Berjanji tidak akan mengulangi lagi
e. Memperbanyak amal ibadah untuk menutupi dosa-dosa yang telah dilakukan.
2. Dosa berkait dengan hak Allah dan harus ditunaikan haknya, seperti puasa, zakat dan lain-lain yang merupakan hak Allah. Maka upaya taubat yang harus dilakukan adalah : Berhenti dari melakukan dosa tersebut.
a. Membayar hak Allah yang belum dibayarkan
b. Menyesali perbuatan yang telah dilakukan
c. Mohon ampun kepada Allah dengan banyak membaca istighfar.
d. Berjanji tidak akan mengulangi lagi
e. Memperbanyak amal ibadah untuk menutupi dosa-dosa yang telah dilakukan.
3. Dosa berkait dengan manusia. Contoh dari jenis dosa ini adalah ghibah, berbohong, namimah, fitnah dan sebagainya. Maka upaya taubat yang harus dilakukan adalah :
a. Berhenti ti dari melakukan dosa tersebut.
b. Menyesali perbuatan yang telah dilakukan
c. Minta maaf kepada orang yang disakiti
d. Mohon ampun kepada Allah dengan banyak membaca istighfar.
e. Berjanji tidak akan mengulangi lagi
f. Memperbanyak amal kebaikan terutama kepada orang yang pernah disakiti, sehingga ia betul-betul ridha dandapat memaafkan.
4. Dosa berkait dengan manusia dan harus ditunaikan, seperti mencuri, korupsi, merampok dan sebagainya. Maka upaya taubat yang harus dilakukan adalah :
a. Berhenti dari melakukan dosa yang telah dilakukan.
b. Meminta maaf kepada orang yang telah disakiti.
c. Menyesali perbuatan yang telah dilakukan
d. Mingembalikan hak-haknya yang telah di ambil.
e. Mohon ampun kepada Allah dengan banyak membaca istighfar.
f. Berjanji tidak akan mengulangi lagi
g. Memperbanyak amal kebaikan terutama kepada orang yang pernah disakiti, sehingga ia betul-betul ridha dandapat memaafkan.
4. Hikmah orang yang bertaubat.
Setiap muslim hendakny amemperbanyak taubat kepada Allah atas dosa yang telah dilakukan, baik dosa kecil maupun dosa besar. Lebih cepat untuk bertaubat tentu lebih baik. Karena sesungguhny amanusia berpacu dengan maut. Tidak ada yang tahu kapan Allah akan memanggil hamba-Nya. Hikmah oranh yang banyak melakukan taubat adalah :
a. Hidup menjadi ringan karena terhindar dari beban dosa.
b. Hati menjadi bersih sehingga mendatangkan ketenangan.
c. Pikiran semakin jernih, tidak terbebani oleh hal-hal negatif.
d. Semakin ringan untuk melaksanakan ibadah epada Allah, karena dengan taubat berarti semakin mendekatkan diri kepada Allah.
e. Semakin leluasa untuk beraktivitas dan mengembangkan diri karena tidak terbebani oleh dosa-dosa dan kesalahan yang dilakukan.
BAB VII
AKHLAK TERCELA
A. Riya’
1. Pengertian Riya’
Secara bahasa riya’ berasal dari bahasa arab berarti memperlihatkan. secara istilah riya’ berarti melakukan sesuatu karena ingin dilihat atau ingin dipuji orang lain. Imam Ghozali mengatakan “ Barang siapa merasa senang orang melihat amalnya, maka dia itu orang yang Riya’’.
Riya’ adalah perasaan batiniyah ingin dipuji orang lain. Padahal semua amal dan pengabdian seseorang akan sia sia apabila terbersit perasaan ingin dipuji dan disanjung orang lain. Hal itu berarti menunjukkan pengabdian kita kepada Allah belum sepenuhnya. Firman Allah QS. Albaqarah 2:264.
••
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”].
2. Kategori Riya’
Riya’dibagi menjadi dua macam, yaitu:
a. Riya’ jaly (terang), yaitu seseorang yang menjalankan amal kebajikan dihadapan orang banyak agar dikagumi dan dipuji, serta dikategorikan sebagai orang yang shalih dan berbakti kepada Allah.
b. Riya’ khofi (samar), yaitu seseorang yang merahasiakan amal kebajikannya dari hadapan orang lain, tapi dalam merahasiakan itu dia bertujuan agar dirinya mendapat pujian.
Beberapa contoh perbuatan yang menunjukkan ada perasaan riya’ dibalik apa yang telah dilakukan adalah;
a. Memamerkan amal kebajikan yang dilakukan kepada orang lain
b. Menyebut-nyebut shodaqoh dan amal kebaikan yang telah dilakukan kepada orang lain.
c. Senang dipuji dan marasa senang bila ada orang yang melihat amal kebajikannya
d. Merasa kecewa bila tidak mendapatkan ucapan terimakasih.
e. Merasa benci bila amal kebajikannya diremehkan, dan lain sebagainya.
3. Akibat dari Riya’
Riya’ adalah penyakit hati yang harus selalu dibersihkan. Riya’ merupakan salah satu jalan bagi syetan untuk memperdaya manusia bila menggunakan cara yang lain tidak bisa. Beberapa akibat negatif dari riya’ antara lain;
a. Menghapuskan pahala amal perbuatan.
Amal perbuatan yang diiringi dengan riya’ maka pahalanya akan terhapus. Sebagaiman firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 264 di atas.
b. Dapat merusak keimanan, sebagaimana firman Allah dalam QS.Al-maun 107 : 1- 7
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. Orang-orang yang berbuat riya[1603],
7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna].
c. Tergolong perbuatan Syirik, sebagaimana hadits Nabi,
“Sesungguhnya yang paling aku takuti atas kamu adalah syirik kecil, sahabat bertanya, apa syirik kecil ya Rasulullah?,Beliau menjawab,” itulah Riya Dihari kiamat nanti Allah akan berkata kepada mereka “ pergilah kamu kepada orang yang menyebabkan kamu beramal ingin dipujinya, mintalah balasan kepada-Nya ( HR.Ahmad ).
Riya’ memang merupakan penyimpangan amal yang sangat halus. Sehingga kadang manusia sendiri tidak menyadarinya. Bahkan malaikatpun kadang tidak mengetahuinya. Hanya Allah yang maha tahu tingkat keikhlasan amal ibadah manusia. Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan doa untuk berlindung dari perbuatan riya’.
“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada- Mu dari perbuatan kekafiran, perbuatan fasik, perpecahan, sifat sum’ah, (memperdengarkan amalan kepada orang lain), dan sifat Riya’”.
B. Aniaya (dholim).
1. Pengertian,
Aniaya atau disebut juga dholim berasal dari kata Berarti aniaya , pelakunya disebut Perbuatannya disebu
Secara istilah dholim berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dhalim adalah perbuatan aniaya yang merugikan orang lain. Suatu perkataan atau perbuatan yang menjadikan orang lain sengsara atau tersakiti, maka ia tetap melakukan kedholiman. Jadi dholim adalah segala perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran, dan pasti akan membawa kemudhorotan bagi diri sendiri dan orang lain. Sabda Nabi :
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu, tiada seseorang yang menganiaya orang mukmin kecuali Allah membalasnya di hari kiamat “.
2. Kategori Dholim.
Ali bin Abi Tholib RA. Menjelaskan bahwa dholim itu dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :
a. Dholim kepada Allah.
Dholim kepada Allah berarti tidak menempatkan diri sebagai seorang hamba di hadapan Allah SWT. Bentuk kedholiman kepada Allah seperti menyekutukan Allah atau syirik. Inilah dholim yang paling berat yang tidak akan diampuni bila tidak taubat sebelum ajal tiba. QS Luqman 31:13
“Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Contoh kedhaliman yang lain adalah tidak mensyukuri nikmat Allah, ingkar atas perintah Allah, melaksanakan hal-hal yang dilarang, tidak mengikuti aturan Allah dan sebagainya.
b. Dholim terhadap diri sendiri.
Dholim terhadap diri sendiri berarti melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri. fisik atau tubuh manusia punya hak seperti mata untuk melihat hal-hal yang baik, telinga untuk mendengarkan sesuatu yang baik, perut diberi asupan makanan yang baik. Fisik butuh istirahat, dan sebagainya. Bila hak-hak tubuh tidak dilayani dengan baik maka akan terjadi penyimpangan dalam bentuk sakit atau penyakit yang menyerang tubuh. Jadi dholim terhadap diri sendiri berarti tidak melayani tubuh sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Setiap kedhaliman pasti akan ada pihak yang dirugikan, dalam hal ini adalah diri sendiri. Akiabtnya akan terjadi ketidaknyamanan baik secara fisik atau psikologis.
c. Dholim terhadap sesama manusia.
Dholim terhadap sesama manusia berarti melakukan sesuatu yang merugikan orang lain baik kerugian fisik maupun psikis. Orang yang suka melakukan kedhaliman berarti suka menyakiti orang lain, berhati kasar dan bertabiat buruk. Setiap keburukan pasti akan kembali pada diri sendiri, demikian juga kebaikan, pasti juga kembali pada diri sendiri.
3. Akibat perbuatan Dhalim.
Dhalim adalah perbuatan yang dilarang. Setiap yang dilarang pasti ada madharatnya. Akibat dari Dhalim antara lain :
a. Jiwa tidak akan tenang karena ada pihak lain yang teraniaya.
b. Tidak disukai dan dijauhi teman karena sering merugikan orang lain.
c. Makin jauh dari kebaikan.
C. Diskriminasi
1. Pengertian
Diskriminasi secara bahasa berasal dari bahasa Inggris discriminate, yang berarti membedakan. Secara istilah diskriminasi berarti membedakan perhatian dan kasih sayang antara satu orang dengan yang lainnya dengan alasan yang tidak dibenarkan. Bahasa sederhananya diskriminasi berarti pilih kasih. Memberikan kasih sayang dengan membeda-bedakannya.
Ada beberapa alasan yang sering menjadi penyebab seseorang berlaku diskriminatif, yaitu perbedaan ras, suku bangsa, bahasa, budaya, agama, profesi, status ekonomi, status sosial, kondisi fisik dan sebagainya. Padahal sesungguhnya di mata Allah semua manusia adalah sama. Yang membedakan adalah ketakwaannya.
Dengan demikian tidak ada alasan bagi seseorang untuk membeda-bedakan orang lain karena kondisi dan latar belakang yang berbeda. Dalam hal ini umat Islam perlu mencontoh bagaimana sikap Rasulullah.
2. Contoh perbuatan diskriminatif
Sikap diskriminatif banyak terjadi di tengah kehidupan kita. Beberapa contoh sikap diskriminatif seperti :
a. Membedakan kasih sayang dari orang tua kepada anak-anaknya, karena kondisi dan kemampuan anak yang berbeda.
b. Perbedaan kasih sayang dan perhatian guru kepada murid-muridnya, karena perbedaan kondisi dan kemampuan murid.
c. Perbedaan perhatian dari pemimpin kepada rakyatnya, karena perbedaan golongan atau partai.
3. Nilai negatif dari sikap diskriminatif.
Apabila manusia mengembangkan sikap diskriminatif di antara sesama, niscaya akan memperoleh hasil yang tidak menyenangkan. Nilai negatif dari sikap diskriminatif antara lain :
a. Tidak mendapatkan simpati dari lingkungannya. Bahkan dapat terjadi penolakan.
b. Seseorang yang tidak dapat memberikan kasih sayang tidak akan disayangi. Sebagaimana sabda nabi.
“siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi”.
c. Akan menemui kesulitan pada saat ia membutuhkan dukungan dari orang lain.
4. Membiasakan diri menghindari sikap diskriminatif.
Beberapa upaya dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari sikap diskriminatif, antara lain :
a. Memandang orang lain sama sebagaimana Allah memandang hamba-Nya. Yang membedakan adalah ketaqwaannya.
b. Berpikir tidak hanya pada saat seseorang berada pada posisi yang menguntungkan, tetapi mencoba menempatkan diri pada pada posisi yang tidak menguntungkan.
c. Berpikir empatik, yakni menempatkan diri pada posisi orang yang diperlakukan tidak adil, yakni tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang semestinya.
d. Memahami dan berusaha mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah yang tidak pernah bersikap diskriminatif terhadap para sahabatnya.
Beberapa pelajaran dapat kita ambil dari sejarah hidup Rasulullah antara lain :
a. Rasulullah tidak pernah membeda-bedakan sahabatnya satu dengan yang lain, walau kondisi masing-masing berbeda. Semua dihormati dan dihargai sehingga tidak ada sahabat yang merasa rendah diri di hadapan Rasulullah, juga tidak ada yang merasa tinggi hati.
b. Rasulullah tetap menghormati orang lain di luar Islam seperti kaum yahudi dan Nasrani selama mereka tidak mendhalimi umat Islam.
c. Rasulullah memandang para sahabatnya bukan dari latar belakang sosial ekonomi, pangkat, derajat dan sebagainya yang bersifat duniawi, melainkan beliau melihat dari segi agamanya dan ketaatannya kepada Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Siti, Dkk. Studi Islam Praktis, Yogyakarta, UCY Press, 1999.
Al-Hafidh, Amdjad, Keistimewaan dan peranan Al-Asma ul Husna di zaman Modern, tt.
Al-Ghazali,, Muhammad, Akhlaq Seorang Muslim, Semarang : Wicaksana, 1985.
Al-Qahthani, Sa’id bin Ali Wahf, Asma’ul Husna Menurut Alquran dan As-sunnah, Yogyakarta, Absolut, 2003.
Arifin, Bey, Rangkaian Cerita dalam Alquran, Bandung : Al-Ma’arif,1971
Asmuni, Yusran M. Ilmu Tauhid, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2000.
Atho’illah, Syaikh Ibnu. Kuliah ma’rifat, Surabaya: Tiga dua, 1996.
Ibrahim, Syekh Bakr Muhammad, Kisah-kisah Terindah yang diabadikan Alquran, Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2006.
Ilyas, Yunahar, Kuliah Akhlaq, Yogyakarta : LPPI, 2007.
Ilyas, Yunahar, Kuliah Aqidah Islam, Yogyakarta : LPPI, 2007.
Rifa’i, Moh, 300 Hadits Bekal Dakwah dan pembina Pribadi Muslim, Semarang : Wicaksana, 1980.
Sahli, Mafudhi, Himpunan Ayat-ayat Alquran dan Khasiat Asmaul Husna, Jakarta : Pustaka Amani, tt.
Smarqandi, Al-Faqih Abu Laits, Tanbihul Ghofilin, Jakarta: Darul Ihya, 1980.
Thaib, Ismail, Risalah Akhlaq, Yogyakarta, Bina usaha, 1984.
Wahid, Abdul, Himpunan Hadits shohih Muslim, Surabaya: Arloka, 2004.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar